Sunday, November 9, 2014

Selamat Jalan, El Nino!

Sabtu, 8 November 2014. Satu lagi hari terberat dalam hidup gw. Akhirnya jari-jari ini bisa menari di atas keyboard laptop. Selagi air mata berhenti mengalir untuk sejenak, gw mau bercerita tentang Erick Priberkah Hardi. Lelaki yang doyan bikin hidup gw jungkir balik.  

Satu per satu julukan bermunculan di hari terakhirmu. Jurnalis Tangguh, Pria Keras Kepala, Si Minim Bicara Banyak Menulis, Wartawan Anti Amplop, hingga ucapan konyol netizen di berita kepergianmu di situs Tempo. Berbagai berita dan postingan muncul di media sosial tentang perjuangan terakhirmu di RS Hasan Sadikin Bandung sampai prosesi pemakamanmu di sana. Di Sumedang. Kampung halamanmu. Tempat kamu menghabiskan masa kecil hingga menjelang dewasa.

Itu kata mereka. Bagi gw, lo itu El Nino angkuh yang cemerlang di langit malam. Gw, bonsai kecil ini, bersyukur pernah merasakan kehangatan lo di Bumi Parahyangan itu. Lelaki keras kepala berjiwa lembut. Keras seperti batu karang. Kamuflase untuk menutupi jiwamu yang lembut dan bahkan cenderung rapuh.

Lo itu lembut seperti French Fries yang ditaburi mayones dan saos sambal. Terkadang alot seperti Cumi Goreng Mayones di D’Cost Sukajadi. Krenyes seperti popcorn di Blitz Megaplex PVJ. Sering juga kamu itu hangat seperti Cuanki di Balai Kota Bandung di Jl. Wastukencana. Makan.. makan.. makan.. Salah satu agenda yang sering bikin dompet cepet kosong karena lo selalu melarang gw  terima amplop dari narasumber.

Lo itu cerewet. Terutama ketika sedang marah dan kesal. Entah itu karena upaya korupsi, berita yang ga mutu, hingga hal-hal abstrak tentang Tuhan. Lo tau gw ga suka berdebat tapi lo tetap berkoar-koar. Sisi rapuh itu pun bermunculan. Tak lama setelah bir-bir kaleng itu abis, lo baru berhenti dan bilang : “Makasih ya udah dengerin gw”. Selanjutnya giliran gw yang bawel ketika lo pengen beli kaleng-kaleng baru.

 Lo itu telaten. Lebih telaten bangun pagi buat liputan. Lebih telaten cari celah pemberitaan yang lebh menggigit. Lebih telaten belajar. Lebih telaten soal deadline. Lebih telaten jalan-jalan, cucian, dan makanan. Redaktur dan nyokap gw kalah telaten deh dari lo.


Lo itu pecinta kata-kata. Bagi lo, bahasa adalah tuhan yang sebenarnya. Satu dari banyak hal yang membedakan kita. Tapi entah kenapa gw selalu nyaman dengan itu semua. Dasar menyebalkan! Semua puisi, lagu, buku, dan syair yang pernah lo kasih memotivasi gw untuk terus menjadi pejuang.

Terimakasih udah mengenalkan Ben Harper, Peter Gabriel, dan Jack Johnson.
Terimakasih udah menjagai gw.
Terimakasih udah membiarkan gw memilih yang ga gw mau tapi itu yang terbaik buat gw.
Terimakasih udah tetap setia terhadap jurnalistik sampai titik akhir.


Ah terimakasih Tuhan.. Menulis membuat gw kuat  lagi. Gw akan terus menulis sampe gw jadi semakin kuat, kuat, dan kuat. Selamat istirahat ya, Aa.. Tuhan itu ada kok di atas sana. DIA pendengar yang jauhh lebih baik dari gw.

One beautiful moment at Balai Kota Bandung, 2006. Captured by our best friend.



“Lo itu perempuan terbaik kedua setelah ibu gw.
 Jangan biarin seorang pun, termasuk lo sendiri, meragukan sisi itu!”
(Erick P. Hardi, 2011)

***


PS : Terimakasih untuk Ruben. F. Knehans, suami gw, yang mengijinkan gw berkabung untuk Erick. God bless you both. This is the last post, last tears, and the last silly time.

No comments:

Post a Comment