Monday, May 5, 2025
Lilin itu Bernama Sahala
Sunday, January 19, 2025
Gentong Air, Anggur, dan Penikahan di Kana
Monday, June 15, 2020
Rollercoaster ala Yahoo Small Business
Sunday, May 10, 2020
Frozen, Puding, dan Shanum
Wednesday, April 22, 2020
Jalan Kita Sama-sama Terjal
Friday, September 6, 2019
Steamboat Night ala Santika Premiere Jogja
![]() |
| First of all, choose your fave meat. Fish, chicken, sausage, or maybe meatball. |
![]() |
| Add some veggies. I love the tofu and hubby love broccoli. |
![]() |
| Slrupppp... |
![]() |
| Chef's on the move. |
Tuesday, May 29, 2018
Akhirnya Keluar Kandang
![]() |
| Yey, resmi ikutan jadi pendukung acara! |
![]() |
| Stan no. 1 secara harafiah. Posisi paling depan pintu masuk dimana sirkulasi udara yang pol itu menyebarkan aroma sambel ijo dan ayam goreng dari penggorengan. |
LULUS yang Kedua
![]() |
| Ciyeee yang Lulus euy! |
Your hardwork (and God) will never betray you. Although you may be hurt and bleeding now, a better day will come (1).
![]() |
| Yeahh berhasil!! |
![]() |
| Bahagiaaa!!! |
"We staked out on a mission to find our inner peace
Make it everlasting so nothing's incomplete
It's easy being with you, sacred simplicity
As long as we're together, there's no place I'd rather be
With every step we take, Kyoto to The Bay
Strolling so casually
We're different and the same, gave you another name
Switch up the batteries
If you gave me a chance I would take it
It's a shot in the dark but I'll make it
Know with all of your heart, you can't shame me
When I am with you, there's no place I'd rather be"
--Clean Bandit, 2014
Wednesday, March 21, 2018
Di Pasar Senen
Siang itu pasukan Markas Besar Blok KK No. 6 berkunjung ke Pasar Senen. Namanya juga pasar, di sana penuh dengan orang-orang yang auranya menurutku seperti dementor! Hehe.. Clingak-clinguk, ternyata ada Es Teler 77. Aku selamat!
Aku ajak bapak duduk-duduk di sana sambil tunggu Mama, Era, Andi, Rina, dan Eliza berburu barang incaran mereka. Bapak biasanya memang malas ikutan belanja. Energinya si mama emang dahsyat banget kalau lagi di tempat macam Pasar Senen atau Pasar Baru. Jago banget dia berburu barang bagus dengan harga miring.
Es Teler 77 ini konon adalah salah satu surganya minuman yang pakai alpukat. Bapak minum Es Teler. Aku pilih menjajal minuman aneh yang memadukan kopi dan alpukat (sungguh rasanya gak cocok di perutku). Untung makanannya masih tetap sama.
Kami makan dan minum dalam keheningan yang bising. Damn, rasa ini datang lagi! Rasa kikuk ketika cuma berdua saja sama bapak. Kehabisan materi omongan hanya dalam 2 menit pertama. Tapi sudahlah, kali ini aku tak ambil pusing. Aku sudah bahagia amat sangat bisa bertatap muka dengan pria pertama dalam hidupku itu. Sehat-sehat ya pak!
Boru Panggoaranmu,
Evi Panjaitan
N.B : Sembah syukurku kepada Telkomsel. Bonus poin pembayaran langganan SATU TAHUN kuhabiskan dalam sekejab di Es Teler 77.
Together with You
Since you are yin to my yang..
I'm still practicing my pond pudding with the fish decoration. So, this is the newest result. I called it "Together with You". Ruben said the fishes look like a ying yang combination. I like them.
Ingredients :
1/2 sachet Agar Rasa by Nutrijell
1/2 sachet Nutrijell Balanced Color with Soursop flavor
2 tablespoons sweetened creamer (me : Carnations)
100 grams Sugar
900 millilitres water
Pasta (melon, bubblegum, raspberry, & orange flavors)
Basil seeds (biji selasih) or chia seeds
Tools :
Jelly mold (fish shape)
Plate (with the round shape)
Bowl (smaller than plate)
Pastry brush/ cottonbud
Steps :
1. Make the milk pudding by using Agar rasa, creamer, 1/4 portion of sugar, and 450 ml water.
2. Put a few milk in to fish jelly mold and let them get harden in a temperature room.
3. Put 1-2 drop bubblegum paste into the rest of milk pudding to make a blue pond. Wait until 5 minutes and then put a bowl right in the middle. Use a glass or anything to make the bowl sink but not too deep. Make it sure the pond has a round bottom. Wait until the pond get harden.
4. Make a clear jelly for the water of the pond. Use Nutrijell, water, and sugar.
5. While waiting jelly has no steam, take the fishes away from the mold. Put basil seeds as their eyes. Give colors on the top of the fishes by using orange & raspberry paste (because I use the Koi shape).
5. Take the bowl from the plate. Put the fish as you want. Put the jelly into the pond. Wait until the 'water' get harden. For the final touch, I brush the edge of pudding with the green (melon) paste. Tadaa... It's done! Bon Appetite!
Cherished the life!
Evi Panjaitan
Thursday, March 15, 2018
The Chapter of Jelly Art
Finally, i step in to the world of jelly art. These are my newbie masterpieces.
Cherish!
Evi Panjaitan
Saturday, January 6, 2018
Candik Ala 1975
Resensi novel
Tahun 1965. Salah satu masa yang melegenda di Indonesia. Momen pertarungan melawan komunis, dengan cara yang bengis, dan meninggalkan banyak cerita tragis. Candik Ala 1965 membawa saya kembali ke masa kelam tersebut namun kali ini dari sudut pandang seorang anak perempuan bernama Nik yang mengabiskan masa kecilnya di Solo.
Nik nama panggilannya. Anak dari pasangan yang aktif berpolitik di Partai Katolik. Nik sendiri tidak terlalu mengerti kondisi negara saat itu. Yang dia tahu, PKI itu penjahat. Tidak boleh merasa kasihan sama PKI dan simpatisannya. Bisa-bisa nanti ditangkap, dijemur di pusat kota, dibawa pergi, lalu mati.
Nik hanya anak kecil yang merasa sedih karena tidak lagi leluasa bermain dengan teman-temannya. Sebentar-sebentar pencidukan. Sebentar-sebentar datang berbagai truk tentara. Sebentar-sebentar ada dar-der-dor. Sebentar-sebentar ada mayat berserakan di pinggir jalan. Satu per satu tetangga hilang, teman dibawa pergi, dan bahkan kakaknya "hilang" karena semua yang (dianggap) berbau PKI harus mati.
Nik tumbuh menjadi gadis penari. Rasa simpatinya semakin lama semakin mendalam kepada korban keganasan pemerintah yang alergi setengah mati sama PKI. Ketika rumah tidak lagi bisa memberikan jawaban atas kegelisahan batin, Nik mencari jawaban dengan caranya sendiri dan berakhir dengan rasa rindu yang luar biasa akan kampung halamannya. Suasana Solo dengan warna langit Candhik Ala di senja hari. Langit indah berwarna kuning kemerahan.
"Yaa.. Kita bisa saja hidup di jaman yang salah..."
***
Candik Ala 1965
Sebuah Novel oleh Tinuk R. Yampolsky
Diterbitkan oleh Katakita, Juni 2011.
Friday, July 14, 2017
Eliza Oyy...
![]() |
Pung, Eliza bisa gak dikirim lewat paket ekspress biar setahun di Jogja, setahun di Bandung,
dan setahun berikutnya baru dikembaliin ke Jakarta. :D
|
![]() |
| Inspeksi Permen Yuppi |
![]() |
| "Singa Asam Manis" |
Eing ing eng... ternyata memang tidak terlalu sulit "menyabotase" Eliza. Dengan catatan, saya dan ELiza lagi sama-sama waras ya. Hehehe. Sisi storyteller dalam diri pun masih ada. Sebagian besar dari kebersamaan kami habiskan dengan berdongeng dan bernyanyi. Cerianya Eliza apalagi waktu diajak berhayal tentang ikan dan singa. Suaranya kenceeeng! Apalagi kalo lagi nyanyi lagu macam "Tik Tik Bunyi Hujan","Ondel-Ondel", "Little Finger", atau "Johny Boy" (Bou Era ,ini bukan ya judulnya?).
Eliza juga seru juga waktu diajak belajar main (baca : bersosialisasi) sama-sama anak-anak kecil lainnya di Rumah Tulang Uli pas persiapan acaranya Uli. Semacam pengalihan gitu deh biar quality time Eliza dan Namboru Evi minim gadget. Mending main air dan tanah aja. Kotor sih tapi sensorinya terpakai. Tapi pas bagian lompat kodok, beuhh...nyerah! Kebayang deh anak ini pasti senang sekali kalau nanti ikut Sekolah Minggu atau sekolah beneran. Pintar dan baik hati selalu ya, inang.
Tuesday, May 2, 2017
Dieng, Negeri di Awan
| Eksplor Dieng! |
![]() |
| Pemandangan Gunung Sindoro dari Gunung Sikunir |
| Hujan dan stamina yang sudah sisa-sisa di Telaga Warna. Padahal kalau cuaca mendukung, Telaga ini oke banget untuk jadi objek foto. |
| Zamira, anak Dieng, membantu ibunya mencuci kentang mini yang dijual dengan harga Rp5.000/kg. Kentang Dieng punya rasa yang manis dan gurih walau dimasak dengan cara direbus saja. |
![]() |
| Ada Dieng Culture Festival lho pada 4 s/d 5 Agustus 2017 |
Thursday, February 16, 2017
Istirahatlah dengan Tenang Ya Pung
Gugupku baru saja hilang setelah aku selesai menjalankan tugas di Persekutuan Karyawan Kamis (16/2) di GKI Gejayan. "Opung doli meninggal..", begitu pesan singkat di grup Pasukan Bodrex Siahaan. Seketika itu juga rasa panik kembali muncul.
Ah, opung! Aku benar-benar kaget, pung! Serius pula ompung tinggalkan kami semua. Kudengar memang cerita tentang Ompung dari para tulang dan sepupu yang rutin berkunjung ke Balige. Tapi, tak kuduga dengan cara tiba-tiba begini.
Masing-masing dari kami di grup pun saling bertukar informasi. Mama kami, mamatua, tulang.. Kepedihan menyerang mereka lebih dan lebih lagi. Tangisan demi tangisan bersusulan. Jiwaku pun menangis karena aku tidak bisa peluk mama di Jakarta sana.
"Kamu bisa temani mama pulang, inang?" tanya mama sambil terisak-isak.
"Nggak ma. Aku pasti ga kuat, ma", jawabku tanpa berani mengulik lebih dalam lagi perasaan mama. Pak, kami titip mama ya.
Ah, pung. Aku tidak suka menulis tentang kematian. Perih, pung. Inginku, aku mendukung mereka yang masih hidup saja melalui tulisanku. Tapi coba lihat apa yang mama lakukan, pung? Dikirimnya foto ompung doli dan ompung boru yang keren banget itu di depan HKBP Balige usai pemberkatan nikah Tulang Hasan & Nan Tulang. Akhirnya aku menyerah. Meneteslah air mataku..
Pung, banyak lho cerita kita. Aku beruntung menjadi cucu generasi perdana bareng Ai. Kami banyak menerima perhatian ompung sewaktu masih gagah dulu. Ompung pun masih berani bepergian sendiri di Sumatera dan Jakarta dulu. Aku ingat, pernah ketakutan sewaktu dulu masa SMA nekat jalan-jalan tanpa seijin bapak mama namun tiba-tiba kulihat Ompung berdiri sambil bertolak pinggang dengan muka galak di Lampu Merah HEK. "Mati aku!", pikirku saat itu tanpa berani meminta sopir angkot berhenti agar Ompung bisa naik. Padahal mungkin saat itu Ompung sedang kesal menunggu angkot sepulang dari rumah Tulang Olan. Berwibawa sekali Ompungku ini sampe ngeri aku dibuatnya dengan melihat sekilas saja.
Ah, pung! Nunga mulak ho tu jabuni Debata. Istirahatlah, pung! Nunga sae ma tugas ni Ompung tu hami di portibi on. Mauliate godang ompung doli hasian ni hami. Pasahat ma tabiku tu Ompung Gondut di san. Ummaa..
Sunday, January 29, 2017
25 Hari Bersyukur : The Abangs ke Jogja
Hari ke 6 - The Abangs ke Jogja
Masih tentang 25 Hari Bersyukur, kali ini tentang pertemuan dengan mereka. The Abangs! Di Jogja pula. Kesempatan langka.
Saya sedang menantikan penampilan penampilan Paduan Suara Mahasiswa Ukrim di Natal BKSGK Sleman saat tiba-tiba Mama Rinta beri kabar tentang para abang yang mencoba meraba jalan dari Salatiga menuju Jogja. Seketika itu juga buyar rencana untuk menikmati indahnya komposisi vokal dari teman-teman pemuda. Btw, Alfa ganteng sekali dengan kemeja biru tua menyala, dasi hitam minimalis, dan celana slim fit hitam. Wkwkwk... Tiba-tiba saya ngeh maksud Ruben tentang "pesona" Alfa. Hahahaha..
The Abangs yang datang kali ini adalah Mas Alex & Mas Johnny. Pasukan cukup lengkap. Ada Mbak Tika, Putri, Astrid, dan Lily. Ada Mbak Wiwik, Rangga, Anggi, dan juga si mungil Aldi. Rame! Mereka baru selesai resepsi nikahan Alfred di Kendal. Selamat menempuh hidup baru ya, fred!
Kumpul, kumpul, kumpul. Ngantuk langsung buyar begitu ada ayam goreng bacem. Cuma mama yang tidak bergeming sama cemilan berat penuh kolesterol tapi penuh godaan itu. Hahaha..
Duh, maaf ya kami menjamu ala kadarnya. Tapi kami seneng bisa kumpul dengar The Abangs. Obrolan, kumpul-kumpulnya, dan jalan-jalannya pasti belum puas. Makasih juga sudah nyamper ke tempat kerjaku.
Kapan-kapan kalau waktunya pas, kita muterin Jogja lebih lama ya. Jajal kuliner lain. Foto-foto di spot lain yang keren di Jogja.
-Peluk sayang dari kami di Jogja-



















