Monday, May 5, 2025

Lilin itu Bernama Sahala



Apa itu 'turun ke bawah'? Pemborosan kata. Turun ya pasti ke bawah. Memang ada turun ke atas?

Kata apa itu 'kenapa'? Cek KBBI. Mana yang betul 'kenapa' atau 'mengapa', atau kamu mau bilang 'kena apa'?

Ah, apa itu 'down to earth'? Memangnya tidak ada padanannya di Bahasa Indonesia? Tulisan yang baik harus bisa dimengerti pedagang di pasar sampai presiden. Sederhanakan bahasamu.

Teliti lagi 'di pisah' atau 'dipisah'. Kamu mau bicara tempat atau kata kerja? Masa kesalahan sepele seperti ini masih muncul sih.

Dan, tentunya masih banyak detail koreksi menyebalkan selalu muncul dalam setiap pertemuan dengan Bang Sahala. Ini belum masuk kalimat hantaman selanjutnya seperti : "Tulisanmu dangkal", "Ini cuma bagus buat buku harianmu saja", "Riset dari mana ini?". Makjleb deh koreksinya Bang Sahala dengan tinta merahnya. Harus jaga lisan, tulisan, dan perasaan sebelum menghadap Bang Sahala yang konservatif. Hahaha..

Gilanya lagi, rasa waspada dikoreksi Bang Sahala masih muncul bahkan 22 tahun kemudian. Padahal aku tak lagi bergelut di dunia wartawan. Sahat Sahala Tua Saragih itu sungguh Ivan Lanin versiku. Efeknya apa? 

Salah satu yang paling sederhana, aku menulis pesan teks aja harus sesuai EYD. Hahaha... Dahsyat! Mau komentar atau bikin materi kelas? Ya riset dulu. "Kelamaan mikir lo ah", begitulah seringnya celetukan orang ke aku.  

Aku ini padahal hanya butiran debu di antara ribuan orang hebat besutanmu, bang. Masih banyak hasil gemblengan 'militer' seorang Sahala bertebaran hingga ke ujung bumi.

Semua ilmu di kelasmu berguna banget, bang. Kami tahan banting. Seberdampak itu efek Sahala bahkan hingga puluhan tahun kemudian. 

Lalu, minggu sore itu aku tersenyum liat foto kiriman Icha temanku di Jurnal 2002. Temanku, yang muslim ini, mengabadikan foto saat dia dan teman-teman lain ikut mengantarkan Bang Sahala di gereja GKPS Bandung. Uhh.. indah banget. 


Ada dua spanduk yang mendampingi peti putih tempat Bang Sahala terbaring. Di kiri bertuliskan : "Persekutuan dan pelayanan yang berdampak". Sementara di sisi kanan : "Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan karena kita telah dipilih dan ditetapkanNya untuk menghasilkan buah". Ah, akhir yang indah.

Tugasmu sudah selesai, bang. Berdampak dan berbuah. Hidupmu sudah jadi berkat. Tapi sinarmu tidak meredup bahkan oleh kematianmu. Pileleuyan ya bang.

-K1A02070-

Foto 1 : Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran
Foto 2 : Icha Jurnal 02 (Annisa Halimatusyadiah)

 

Sunday, January 19, 2025

Gentong Air, Anggur, dan Penikahan di Kana


Kana di kepalaku selalu identik sama anggur "ajaib"*. Baru kali ini aku diajak fokus ke tempayan alias gentong air. Ternyata di waktu yang tepat, air gentong gak berharga itu bisa berubah jadi anggur andalan sommelier terbaik semesta.

Gileee.. air gentong kalo kata orang mah bagusan buat cuci kaki doang woy. Eh tapi di tangan Tuhan, air itu malah disulap jadi wine terbaik tanpa perlu proses fermentasi nan ribet dan mahal. 

Beberapa hari lalu aku makjleb sama sound di Tiktok. Gak usah ngiri sama kesuksesan orang lain. Kita gak tau apa udah Tuhan ambil dari dia. Segala sesuatu di dunia ini udah pas baik buruknya. Yin dan yang kehidupan akan selalu tepat takarannya.

Fokus ke diri sendiri aja. Kontrol apa yang bisa kita kontrol. 
Gak usah ngeluh.
Gak usah khawatir.
Sekalipun kita ada di padang gurun nan gersang, Tuhan pasti pelihara**.
Gak ada sehelai rambut yang jatuh tanpa seizin Tuhan. 

Hari ini kita mungkin masih jadi air di gentong. Suatu hari di waktu yang tepat, air itu akan Tuhan "matangkan" jadi anggur terbaik yang pantas disajikan di jamuan kehidupan spektakuler.

Makasih ya bapak ibu paduan suara minggu (19/1) dan Kak Dharma di GKI Kranggan buat lagu yang bikin semua jemaat sing-a-long. 


"Tuhan selalu menolongku
Selalu menjagaku
Dia mengenyangkanku dan peliharaku
Seumur hidupku"

Semangattt!!

Sumber Bacaan :
*Yohanes 2 : 1-11
**Ulangan 32 : 10

Sumber Foto : 
Biblegetaway.com

Monday, June 15, 2020

Rollercoaster ala Yahoo Small Business

Yahoo di awal Tahun 2000 bisa jadi merupakan simbol kemapanan. Waktu berselang. Sekitar 20 tahun kemudian raksasa ini masih ada sih. Tapi ya gitu deh. Banyak penyesuaian yang terpaksa dilakukan supaya Yahoo tetap bertahan hidup. Semuanya tiba-tiba jadi masalah buat saya ketika ada teman baik "kepleset" gara-gara Yahoo Small Business. Masalah udah selesai. Tapi cerita bak naik rollercoaster di baliknya dan mesti diabadikan di blog ini. Semoga berguna buat yang lain. 


Masalah dimulai ketika teman membuat email bisnis untuk yayasan nirlaba. Entah karena usia yang senja atau apa, pemilik yayasan menjatuhkan pilihan ke Yahoo Small Business untuk melengkapi domain website. Seharusnya proses pembuatan sangat sederhana. Daftar email, lakukan pembayaran melalui jasa keuangan berskala global, verifikasi email, dan selesai. 


Dilalah Yahoo tidak meminta alternatif email untuk mengirimkan link verifikasi. Alhasil email tidak bisa aktif padahal rekening sudah terdebet dan transkrip bukti pembayaran sudah dikirimkan ke email pribadi. Rugi banget kan kalau gak melakukan apa-apa. Biaya pendaftarannya sendiri lebih dari USD500 cuys! Email bisnis tidak bisa diaktifkan karena kami tidak menerima link verifikasi. Mau tidak mau harus minta bantuan kantor pusat untuk membantu aktifasi.


Akhirnya inilah proses yang kami lakukan untuk memulihkan email bisnis :
1. Siapin kopi dan makanan. Ini proses yang sangat panjang serta melelahkan. Butuh bergelas-gelas minuman dan aneka cemilan biar bisa mengurangi stres. Hehehe.. Pertimbangan utamanya itu perbedaan waktu antara kita sebagai pelanggan Yahoo dan kantor pusat layanan Yahoo di Sunnyvale California. Terlebih lagi sekarang kita berada di masa pandemi Covid19. Yahoo dari sejak awal di websitr resminya sudah mengingatkan ada keterbatasan tenaga SDM. Siapkan energi dan kesabaran ya gaess..


2. Siapkan data yang dibutuhkan. Nama domain, alamat email, nomer telpon kita, nomer berkas pembayaran, dan kertas-kertas kosong untuk mencatat. Trust me, you need a loooot of blank paper!


3. Hubungi nomer layanan pelanggan Yahoo Small Business (YSB) berikut ini (01017) +18667819246. Kode angka di dalam kurung adalah kode SLI via jaringan Telkomsel. Untungnya Telkomsel punya paket telpon SLI Rp3.500/ 20 menit yang dibagi per wilayah atau negara. Amerika Serikat dan Kanada masih masuk satu zona yang sama. Kami sendiri pakai Skype jadi bisa gratis ke nomer kantor Yahoo. Bagian ini adalah tahapan uji kesabaran pertama. Di website YBS tertulis layanan bantuan tersedia pada hari kerja senin sampai jumat mulai pukul 06.00 AM hingga 05.00 PM Pasific Time. Tapi sebenarnya layanan pelanggan tersedia 24/7.  Nyatanya tidak semudah itu Ferguso untuk bisa masuk ke jaringan telepon Yahoo Small Business. Jauh lebih mudah bagain umum Yahoo tapi mereka tidak punya akses untuk masuk ke area Small Business. Saya butuh waktu hampir 4 hari untuk bisa berbicara langsung dengan petugas YBS.

4. Customer Service (CS) Yahoo Small Business akan meminta informasi berikut ini :
- Nama kita
- Nomer kita dengan alasan akan menghubungi kembali jika tiba-tiba sambungan telepon terputus. Nyatanya sih kagak. 😏
- Alamat email instansi kita untuk antisipasi ada instruksi tertulis yang harus dilakukan secara resmi. Nama email instansi dan domain di YBS harus sama supaya sinkron untuk kecocokan data. Saya sendiri melakukan kesalahan karena menggunakan alamat email pribadi padahal status saya hanya penyambung lidah. Saya jadi mengulang beberapa kali proses pelaporan ke CS YSB. Btw, Yahoo tidak akan meminta data pribadi atau password. Tapi mereka membutuhkan konfirmasi dari sang pemilik resmi domain sebelum melakukan untuk tindakan apapun. Teman saya sebagai pemilik resmi harus tetap stand by di dekat saya supaya proses verifikasi identitas dan otoritas jadi lancar. 
- Jelaskan permasalahan. Ada baiknya sih kita buat transkrip singkat yang mendeskripsikan problema dalam satu atau dua kalimat. Saya bolak balik menjelaskan kalau intansi saya tidak bisa mengaktikan email bisnis, sementara Yahoo mengganggap kami sekadar lupa password aja. 
- Verifikasi bukti pembayaran. Siapkan invoice pembayaran. Yahoo akan meminta nomer Billing Agreement ID dan mencocokkan dengan data pemilik akun. Di momen ini bisa jadi kita membutuhkan bantuan dari tim bantuan pelanggan jasa perbankan tempat kita melakukan pembayaran. Instansi kami memakai jasa Paypal. Namun tidak semua petugas CS Paypal yang tersedia 24 jam. Wilayah terdekat dengan Indonesia adalah Singapura tapi akhirnya kami menghubungi Paypal US di Nebraska untuk meminta informasi billing agreement. 
- Proses koordinasi antara CS dan back up internal team Yahoo. Durasi di fase ini jauh lebih panjang. Jangan sampai jaringan telepon atau data internet terputus. Kita bisa mengulang antri dari awal lagi. 
- Perdebatan sana sini dan setelah berganti 4 kali agen CS, akhirnya masalah kami selesai. Email resmi instansi sudah di-acc sebagai pemilik domain yayasan. Yahoo kirim link verifikasi. Kami klik. Isi data macem-macem. Selesai! Domain aktif dan email bisnis bisa dipakai deh. 

Kira-kira begitulah proses pemulihan email bisnis kami. Sebenarnya masalah bisa jadi lebih mudah kalau Yahoo mau langsung membantu mengaktifkan sendiri email kita. Tapi pihak Yahoo tegas mengatakan mereka tidak akan mengaktifkan langsung email dari sana. Proses aktivasi tetap harus dilakukan oleh pelanggan sendiri. Sekalipun skema pemulihannya seperti dibawa naik rollercoster selama beberapa hari sebelum kasus dinyatakam selesai.

Semoga ini masalah terakhir dengan Yahoo. Terimakasih banyak untuk semua petugas yang sudah membantu. Sehat-sehat selalu ya buat kita semua. 

Sunday, May 10, 2020

Frozen, Puding, dan Shanum

Ulang tahunnya Shanum selalu jadi cerita tersendiri. Maret 2019 mamanya Shanum, Kak Diella, perdana pesan di tempat kami. Pesanannya selalu cenderung rumit tapi gw selalu jabanin aja.  Akhirnya jadi langganan suka dan sempet jadi duka juga. Wkwkwk..

Tahun ini Shanum pengen ulang tahunnya bertema Frozen. Diskusi sama mamanya udah heboh sejak Maret lalu. Gw gas pol aja. Ternyata jadi rejeki tersendiri lagi buat gw. Gw akhirnya dapet cetakan yang beberapa bulan ini langka ada di Indonesia.  Pandemi bikin produk impor kebutuhan kuliner tersendat di negara-negara asalnya. Salah satunya cetakan silikon.

Pak Suami untung ingatkan gw buat berburu di Marketplace FB juga. Agak skeptis sih awalnya karena gw gak terlalu berjodoh buat jual beli online via FB. Di Tokped dan lainnya aja gak ada, mosok di FB ada. Eh tapi ternyata ketemu pengguna FB di Bogor yang lagi obral SEMUA produk cetakannya. SEMUA guys.. Semua... Gw dapet buanyak banget cetakan yang belom sempet kebeli dan bonus cetakan silikon karakter Frozen. Dapet diskon ongkir pula. Kalo kata Ruben, gw kaya Jasa Raharja. Gw kecipratan keuntungan di balik kebangkrutan orang lain. Hehehe.. Orang lain yang nutup usahanya, gw dapet warisan berharga. Mbak Nikita di Bogor, hatur nuhunn pisan ya. Semoga rejeki Mbak Nikita dilancarkan dari pintu yang lain.


Cetakan sampai Jogja tapi bukan berarti masalah selesai. Seperti cetakan silikon pada umumnya, ukuran pasti cenderung mini. Padahal sebagian pesanan berupa puding bingkisan diameter 18 cm. Sebenarnya gw dan Mamanya Shanum sepakat pakai puding lukis aja. Gw aja yang ragu. Lukisan pertama, ketiga, dan terakhir pasti bakal beda semua. Wkwkwk.. 

Pada akhirnya jadilah seperti ini. Dua puding lukis ukuran diameter 18 cm dan empat puding cetak bertema Frozen. Gw seneng sama hasilnya. Lukisan gw makin terlihat hidup. Siap-siap terima pesanan puding lukis nih. Hihihi.. 


Selamat ulang tahun ya Shanum cantik. Sehat selalu juga untuk kita semua. Tetap semangat berkarya mencari rejeki. Tuhan tidak pernah tertidur kok apalagi di masa pandemi. Semangat!!

Proyek selanjutnya apa abang ini aja ya? 🤤🌷 (Sumber Gambar : HDQwall.com)


Wednesday, April 22, 2020

Jalan Kita Sama-sama Terjal

(Yang Membedakan Hanyalah Jenis Batunya)


Dua hari ini gw terpukul dengan berita tentang seorang ibu di Serang, Banten yang konon mati  karena 2 hari kelaparan. Damn, it's a fucking hurtful news!! Pikiran gw pun berkelana.


Mula-mula tentunya gw memaki-maki pemerintah desa setempat. Ini pasti gara-gara birokrasi ala ular tangga. Belibet! Pusat sudah bertitah dengan menyediakan bantuan sosial A, B, C, D namun di daerah menyediakan prosedur X, Y, Z. Proses ketemu A dan Z seringnya kepanjangan plus banyak jebakan batman.


Lalu gw mikir lagi. Ini si ibu kok kaya pelarian yak. Gak punya tetangga, teman, atau sanak saudara. Sampe segitunya gak ada yang mau sekadar minjemin beras, bawang, atau mie instan untuk makan. Sesuatu yang masih lumrah terjadi antar tetangga, dan saudara juga sih. Apa jangan-jangan isi grup Whatsapp RT tempat si ibu ini cuma penuh sama ucapan 'Selamat Pagi'. Atau ucapan 'Ayo diorder bun dagangan saya'. Atau bentuk ramah tamah klise khas obrolan rumah tangga. Penuh basa-basi kurang mutu. Materi penting terkait update pandemi Covid 19 --yang seharusnya lebih pas dibagikan ke grup komunikasi warga-- malah terabaikan. Entahlah... Gw sedih jadi keinget seseorang yang mungkin mengalami hal senada dalam pelariannya. 


Lama-lama gw jadi mikir. Corona ini emang dahsyat banget. Nyaris tidak ada satu pun di dunia ini yang lolos dari serangan virus Corona. Resident Evil banget! Pada akhirnya pilihannya ada dua. Terima kenyataan dan mati pelan-pelan. Atau, berjuang melawan walau salah satu kemungkinannya mati mengenaskan. 


Iya, semua pasti kena dampak Corona. Gak peduli kita orang miskin ato kaya. Gak peduli agama dan ras. Gak peduli kita itu waras apa secara psikis bermasalah (orang awan bilang, gila). Yang membedakan gimana cara kita menghadapinya. Gw keinget unggahan beberapa waktu lalu yang gw dapet di dinding Facebook orang. Jalan kita sama-sama terjal, yang membedakan hanya jenis batunya. 


Masyarakat bawah sudah pasti langsung kena dampak corona. Pekerjaan hilang. Pemasukan terjun bebas. Gw ngeh banget rasanya udah bahagia bisa makan nasi sama kecap doang. Ucapkan selamat tinggal sama rencana pengembangan usaha rumahan yang seharusnya bisa membawa kehidupan ke arah yang lebih baik. 
Diam di rumah gak bisa selamanya berpengaruh baik dengan mutlak. 


Tapi masyarakat atas ternyata juga gak luput dari hantaman corona. Gw melihat sendiri satu per satu perjuangan teman-teman pengusaha di linimasa Facebook. Mereka memang elegan sekali menghadapi bencana. Gak berkoar-koar meratapi kehancuran yang akan dialami tapi tiba-tiba udah ambil solusinya. Usaha boleh ringsek sana sini tapi 'kapal' harus tetap bertahan. 


Pada akhirnya intinya cuma satu. FIGHT. Berjuang. Gw nemu kalimat motivasi dari Kak Lilis Aritonang, "Adapt. Find a smarter and better ways to fight ". Semua orang sama-sama kejebak di jalan yang terjal. Jenis batunya aja yang beda. Pilihannya balik lagi, mau nyerah dan mati pelan-pelan atau mati berjuang.


Para 'nahkoda' besar banting setir. Biasanya bikin mobil, sekarang bikin face shield. Biasanya bikin kebaya super duper kece, sekarang bikin APD atau bahkan kantung mayat. Yang terpenting bisa beradaptasi dan tetap produktif biar bisa bayar gaji karyawan. 


Buat yang masih ada di lapisan tengah dan bawah, ayo kita tetap berjuang. Jangan malu untuk lambai-lambai bendera putih ketika udah gak sanggup bertahan. Gengsi gak akan bisa kasih kita makan. Paksain diri untuk berkomunikasi dengan orang lain jika butuh bantuan. Mentok di jalur A, tenang aja alfabet kan masih ada 25 lagi. Bersyukurlah jika dapat ikan. Lebih bersyukurlah jika dapat kail. Yang terpenting itu berjuang, berjuang, dan berjuang. Berjuanglah seperti halnya kalian monyet ketiga yang mau masuk ke Bahtera Nuh. Amina Armita, gw pinjem gambarnya yaa..


Salam sehat dan tetap semangat 
Evi Panjaitan si pejuang depresi

Friday, September 6, 2019

Steamboat Night ala Santika Premiere Jogja


Yesterday, hubby and i got invitation from my liltle sister to enjoy The Steamboat Night in Santika Premiere Yogyakarta. We really enjoyed the dinner. Simple yet delicious. Chef Totok and crew served steamboat with two kind of soup; tomyam and meat soup. 



First of all, choose your fave meat. Fish, chicken, sausage, or maybe meatball.

Add some veggies. I love the tofu and hubby love broccoli. 


Let the chef boiled the steamboat. Chill out for a while until chef delivered your order. 


Slrupppp... 


The steamboat taste was good. Chef Totok recommended us to combined the tomyam soup with the additional ingredient and yes, it tasted even better. I like the meat soup without additional sauce. It had a strong taste of chicken and beef stock. Just exactly what i want for my cold and flu.





FYI, Steamboat Night will be available at Santika Premiere Jogja every Thursday 6 - 9 PM for the whole September 2019. All you can eat, baby!

Chef's on the move. 


After dinner, we decided to have some walk around Santika. This lovely hotel located in main area of Yogyakarta. It is near from the iconic Tugu Jogja. The pedestrian area ones. So  will have a nice walk while enjoying the old city side. What a wonderful night! Thank you so much Santika.

Tuesday, May 29, 2018

Akhirnya Keluar Kandang


Cerita dari SICD 2018

Akhirnya keluar kandang! Dalam hal ini, konteksnya bakul kuliner. Pengalaman pertama tentunya seru dan berlangsung di waktu yang spesial. Layak untuk disimpen di blog.

Sebagai info, aku sama Ruben mulai serius terjun ke dunia kuliner dengan nama Warung Berkat di tahun 2017. Menu andalannya Sambal Ijo yang nagih di lidah. Awal tahun ini warung vakum karena masalah konyol. Penjualan tetep jalan tapi sistemnya online dan pesanan saja. Area pelayanan kebanyakan Berbah (baca : GKI Gejayan Bajem Adisucipto) dan sekitarnya.

Ruben sebenernya udah lama ajakin untuk jajal mengisi di acara luar Bajem Adisucipto. Tapi tapi tapi... aku masih sulit melawan para dementor di dalam diri. Hehehehe... Itulah yang saya lihat belakangan ini setiap melihat kerumunan orang. Akhirnya semua peluang kami skip, skip, dan skip.

Hingga suatu hari aku nemu pengumunan SICD di dinding Facebook Bu Umi Proboyekti. SICD itu singkatan dari Sistem Informasi Creative Day. Hajatannya Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Acaranya 7-8 Mei 2018 di Gedung Agape UKDW. Yups, itu hari Senin dan Selasa. Tumben-tumbenan gak pikir panjang, gw langsung kontak panitianya. Empat jempol untuk pelayanannya Mas Adrian. Dan, jreng jreng.. Akhirnya kami resmi jadi tenant pertama yang gabung.

Yey, resmi ikutan jadi pendukung acara!

Modal kami pun seadanya. Sebagian barang pinjaman sana sini. Si Ruben bilang, kita berasa bikin warung-warungan. Hahahaha.. Etalase diganti tempat makan (container) biasa. Backdrop lama dijadiin sekalian untuk taplak. Hasilnya, tadaaa....

Stan no. 1 secara harafiah. Posisi paling depan pintu masuk dimana sirkulasi udara yang pol itu menyebarkan aroma sambel ijo dan ayam goreng dari penggorengan.

Sukses? Ya lumayanlah untuk newbie. Dua jam pertama aku frustasi melawan rasa panik. Siapalah kami melawan Es Kepal Milo, Indomie Geprek, Telor Gulung, hingga Bakso yang sudah eksis selama puluhan tahun. Kami terbantu sama panitia yang bolak-balik memancing jajan di stan kami. Selanjutnya, yaa siapa sih yang gak ketagihan sambel ijo gue.. Udah gitu harganya bersaing pula! Yaa ada sih. Tapi banyak juga yang ketagihan, penasaran makan di kotak kertas nasi ala kami, dan berharap kami kembali membuka warung kami di Go Food. 

Sayangnyaa.. Ini semua terjadi di hari kedua yang juga hari terakhir. Aku udah frustasi duluan sehingga menurunkan jumlah barang dagangan. Energi sudah terjun bebas. Padahal kalau pede, keuntungan jauhhh lebih besar paati menghampiri.

Life must goes on. Semua ada hikmahnya. Pelajaran yang kudapat yang mungkin berguna untuk pelaku UKM lain :
1. PD lah dengan produkmu sendiri. Kalau lo sendiri gak pede, apalagi orang laen cuys!
2. Rajin intip linimasa di media sosial. Internet adalah jendela dunia yang baru. Sumber informasi jadwal acara lokal (atau inter lokal, atau inter galaksi sekali pun) pasti ada asalkan jeli mencarinya.
3. Rajin bergaul sama mahasiswa (gaul). Mereka adalah corong yang sangat efektif untuk menggandeng kita-kita sebagai tenant dan calon pembeli.
4. Mulai bergaul sama satpam di kampus-kampus maupun gedung pertemuan dan sejenisnya. Mereka bisa menghubungkan kita ke panitia acara. Dan tentunya, mereka berpengalaman mengamati karakter acara dan jenis pengunjung. Info mereka penting sekali untuk memetakan calon pembeli.
5. Persiapan rencana cadangan dari A dan kalo bisa sampe Z. Maksudnya, jangan cuma jual satu produk. Aku belajar dari senior di stand sebelah kami. Okelah kita jual makanan berat sebagai menu utama. Tapi kita harus jual menu lain yang ringan karena sejatinya orang datang ke pameran atau acara itu untuk jalan-jalan aja. Kalau emang mau makan ya mereka ke tempat makan. Yaa kecuali itu emang pameran makanan sih. Contohnya, menu utama kita itu Es Kepal Milo yang lagi hits. Sediain juga menu lain entah yang kekinian maupun yang abadi macam bakso, somay, batagor, ato es teh manis. 
6. Jaga staminaaa yaa cuys!


Pada akhirnya aku mau bilang terimakasih untuk semuanya di SICD 2018. Jayalah selalu para pejuang! Tuhan memberkati kita semua.

Jogja, 8 Mei 2018
Evi Panjaitan


***

NB : Partisipasi kami di SICD 2018 ini jadi hadiah spesial buat gw untuk memulai usia yang baru. Bonus hadiahnya, puas banget liatin Pdt. Daniel K. Listijabudi yang sliweran terus selama acara. 😍

LULUS yang Kedua


Ciyeee yang Lulus euy!

Rasanya baru saja kami bahagiaaa luair biasa menerima sepucuk surat dengan lima huruf kapital yang ditunggu-tunggu dari SD Kanisus Kalasan. LULUS. Kata pamungkas yang mengakhiri perjuangan mati-matian Si Anak Lanang, Alexander Louis Geovanny Khrisna a.k.a Jovan, dari seragam putih merah. Senin terakhir di Mei 2018 ini kami kembali mendapat kebahagian serupa. Jovan kembali  LULUS untuk kedua kalinya. Sungguh Tuhan Yesus, terimakasih terimakasih dan terimakasih!

Your hardwork (and God) will never betray you. Although you may be hurt and bleeding now, a better day will come (1). 

Kalimat ini Jovan banget deh. Jovan memang melalui masa SMP yang berat banget. Puncaknya yang bikin kami deg-degan ketika terpaksa dia berjuang sendirian di Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pas April 2018.

Masa persiapan Jo sangat sedikit dan pendek. Terlebih lagi, anak ini seharusnya sangat membutuhkan pendampingan ekstra terutama untuk Matematika. Dia memang lemah di angka (seperti akuhh) walau cemerlang di bahasa (seperti akuhh juga). Masih terbersit di kepalaku raut muka frustasinya setiap bercerita tentang hasil try out di sekolahnya. Hasilnya selalu di bawah rata-rata. Tapi hati ini tersenyum ketika dia bilang, "Nilai-nilaiku ya pasti jeleklah. Aku kan gak mau nyontek". Aih nak, aku padamu deh!

Dannn, Puji Tuhan kamu lulus, nak! Bahkan di ujian Matematika yang HOTS (2) itu kamu menembus angka 60 dan hasilnya luar biasa sekali. Dia berhasil memaksimalkan tenaga di ujian bahasa. Total Jovan mengumpulkan angka 31 di UNBK. Selisih 'sikit' lah dari target NEM yang dia tulis (dan dia doakan) di whiteboard ajaib yang juga jadi saksi keberhasilannya dulu.

Yeahh berhasil!!

Selamat ya nak! Seragam putih abu-abu menunggumu. Kamu itu, selalu dan selalu, adalah berlian. Mau di comberan atau di Toko Semar, berlian tetap berlian. Mari kita berjuang lagi ya. Selanjutnya kita masih harus meninju congkak dunia. Kami selalu di sini untuk kamu. Kerja keras kita dan Tuhan Yesus gak akan pernah mengkhianati kita.


Terimakasih juga untuk semua keluarga yang mendoakan dan mendukung Jovan bisa survive sampai hari ini. Juga, terimakasih kepada para murid dan guru di SMP N 3 Kalasan. Termasuk sahabat-sahabat yang hampir setiap hari menaruh Jovan dalam pokok doa di misa, persekutuan, dan sholat kalian. Tuhan memberkati kita semua ya.

Bahagiaaa!!!

"We staked out on a mission to find our inner peace
Make it everlasting so nothing's incomplete
It's easy being with you, sacred simplicity
As long as we're together, there's no place I'd rather be

With every step we take, Kyoto to The Bay
Strolling so casually
We're different and the same, gave you another name
Switch up the batteries

If you gave me a chance I would take it
It's a shot in the dark but I'll make it
Know with all of your heart, you can't shame me
When I am with you, there's no place I'd rather be"
--Clean Bandit, 2014



Berbah, 28 Mei 2018
- Tante Evi -
(Dan juga Om Ruben, dan Oma Arinta, dan mami yang pasti tetap menyayangimu dengan caranya sendiri)

                                

***

Keterangan :
(1)Kalimat ini terinspirasi dari Dino Patti Djalal (Aurelius A. Rosimin di Kompasiana, 2014) dan Piperr1288 (Essay Forum, 2016).
(2) HOTS singkatan dari High Order Thinking Skill. Tahun 2018 secara tiba-tiba Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir menerapkan tipe soal HOTS di UNBK Matematika SMP dan SMA untuk mempertajam (dan membuat frustasi) pesertanya. Ini gara-gara nalar anak remaja di bidang sains, matematika, dan literasi jeblok banget. Sumber : Tirto.id


Wednesday, March 21, 2018

Di Pasar Senen

Siang itu pasukan Markas Besar Blok KK No. 6 berkunjung ke Pasar Senen. Namanya juga pasar, di sana penuh dengan orang-orang yang auranya menurutku seperti dementor! Hehe.. Clingak-clinguk, ternyata ada Es Teler 77. Aku selamat!

Aku ajak bapak duduk-duduk di sana sambil tunggu Mama, Era, Andi, Rina, dan Eliza berburu barang incaran mereka. Bapak biasanya memang malas ikutan belanja. Energinya si mama emang dahsyat banget kalau lagi di tempat macam Pasar Senen atau Pasar Baru. Jago banget dia berburu barang bagus dengan harga miring.

Es Teler 77 ini konon adalah salah satu surganya minuman yang pakai alpukat. Bapak minum Es Teler. Aku pilih menjajal minuman aneh yang memadukan kopi dan alpukat (sungguh rasanya gak cocok di perutku). Untung makanannya masih tetap sama.

Kami makan dan minum dalam keheningan yang bising. Damn, rasa ini datang lagi! Rasa kikuk ketika cuma berdua saja sama bapak. Kehabisan materi omongan hanya dalam 2 menit pertama. Tapi sudahlah, kali ini aku tak ambil pusing. Aku sudah bahagia amat sangat bisa bertatap muka dengan pria pertama dalam hidupku itu. Sehat-sehat ya pak!

Boru Panggoaranmu,
Evi Panjaitan

N.B : Sembah syukurku kepada Telkomsel. Bonus poin pembayaran langganan SATU TAHUN kuhabiskan dalam sekejab di Es Teler 77.

Together with You

Since you are yin to my yang..

I'm still practicing my pond pudding with the fish decoration. So, this is the newest result. I called it "Together with You". Ruben said the fishes look like a ying yang combination. I like them.

Ingredients :
1/2 sachet Agar Rasa by Nutrijell
1/2 sachet Nutrijell Balanced Color with Soursop flavor
2 tablespoons sweetened creamer (me : Carnations)
100 grams Sugar
900 millilitres water
Pasta (melon, bubblegum, raspberry, & orange flavors)
Basil seeds (biji selasih) or chia seeds

Tools :
Jelly mold (fish shape)
Plate (with the round shape)
Bowl (smaller than plate)
Pastry brush/ cottonbud

Steps :
1. Make the milk pudding by using Agar rasa, creamer, 1/4 portion of sugar, and 450 ml water.
2. Put a few milk in to fish jelly mold and let them get harden in a temperature room.
3. Put 1-2 drop bubblegum paste into the rest of milk pudding to make a blue pond. Wait until 5 minutes and then put a bowl right in the middle. Use a glass or anything to make the bowl sink but not too deep. Make it sure the pond has a round bottom. Wait until the pond get harden.
4. Make a clear jelly for the water of the pond. Use Nutrijell, water, and sugar.
5. While waiting jelly has no steam, take the fishes away from the mold. Put basil seeds as their eyes. Give colors on the top of the fishes by using orange & raspberry paste (because I use the Koi shape).
5. Take the bowl from the plate. Put the fish as you want. Put the jelly into the pond. Wait until the 'water' get harden. For the final touch, I brush the edge of pudding with the green (melon) paste. Tadaa... It's done! Bon Appetite!

Cherished the life!
Evi Panjaitan

Thursday, March 15, 2018

The Chapter of Jelly Art

Finally, i step in to the world of jelly art. These are my newbie masterpieces.

Cherish!
Evi Panjaitan

Saturday, January 6, 2018

Candik Ala 1975

Resensi novel

Tahun 1965. Salah satu masa yang melegenda di Indonesia. Momen pertarungan melawan komunis, dengan cara yang bengis, dan meninggalkan banyak cerita tragis. Candik Ala 1965 membawa saya kembali ke masa kelam tersebut namun kali ini dari sudut pandang seorang anak perempuan bernama Nik yang mengabiskan masa kecilnya di Solo.

Nik nama panggilannya. Anak dari pasangan yang aktif berpolitik di Partai Katolik. Nik sendiri tidak terlalu mengerti kondisi negara saat itu. Yang dia tahu, PKI itu penjahat. Tidak boleh merasa kasihan sama PKI dan simpatisannya. Bisa-bisa nanti ditangkap, dijemur di pusat kota, dibawa pergi, lalu mati.

Nik hanya anak kecil yang merasa sedih karena tidak lagi leluasa bermain dengan teman-temannya. Sebentar-sebentar pencidukan. Sebentar-sebentar datang berbagai truk tentara. Sebentar-sebentar ada dar-der-dor. Sebentar-sebentar ada mayat berserakan di pinggir jalan. Satu per satu tetangga hilang, teman dibawa pergi, dan bahkan kakaknya "hilang" karena semua yang (dianggap) berbau PKI harus mati.

Nik tumbuh menjadi gadis penari. Rasa simpatinya semakin lama semakin mendalam kepada korban keganasan pemerintah yang alergi setengah mati sama PKI. Ketika rumah tidak lagi bisa memberikan jawaban atas kegelisahan batin, Nik mencari jawaban dengan caranya sendiri dan berakhir dengan rasa rindu yang luar biasa akan kampung halamannya. Suasana Solo dengan warna langit Candhik Ala di senja hari. Langit indah berwarna kuning kemerahan.

"Yaa.. Kita bisa saja hidup di jaman yang salah..."

***

Candik Ala 1965
Sebuah Novel oleh Tinuk R. Yampolsky
Diterbitkan oleh Katakita, Juni 2011.

Friday, July 14, 2017

Eliza Oyy...

Pung, Eliza bisa gak dikirim lewat paket ekspress biar setahun di Jogja, setahun di Bandung,
dan setahun berikutnya baru dikembaliin ke Jakarta. :D


Namanya Eliza Evangelista Panjaitan. Keponakan pertama kami. Anak menggemaskan yang sepertinya terbuat dari campuran susu formula dengan DHA super tinggi, microphone, cabe rawit, dan marshmellow. Alhasil Eliza tumbuh menjadi anak kicik yang aktif, cerewet, galak, namun imut tiada tara. Hahahaha...



Mama Rina dan Bapak Andi, adik saya, selalu berbagi kisah lucu dan seru tentang Eliza lewat medsosnya. Hiburan banget lihatnya. Andi waktu kecil itu juga menggemaskan. Tapi Eliza ini pangkat tiganya. Hera, adik Bungsu saya, punya cara ekstrim untuk bisa dekat sama Eliza. Buat dia wajib sekali hukumnya untuk video call sama Eliza setiap hari. Wajar banget akhirnya bonding Eliza sama Bou Era jadi kuat sekali walau yang satu tinggal di ujung Jakarta dan satu lagi di Bandung. 


Inspeksi Permen Yuppi 
Saya lebih senang dipanggil namboru. Namboru dalam Bahasa batak berarti kakak atau adik perempuan anak laki-laki dalam keluarga. Sementara itu Ruben, suami saya, dipanggil amangboru. Akhir Juni 2017 lalu kami menghabiskan libur lebaran di Depok. Kumpul-kumpul di Rumah Ompung Eliza. Untuk pertama kali Eliza nyebut kata "boyu". Senangnyaaa..... 



Serius saya senang sekali, pake banget! Soalnya saya dan Ruben tinggal di Jogja. Ketemu sama Eliza baru dua kali. Sempat khawatir Eliza merasa asing sama saya sekalipun di sisi lain gen keluarga Panjaitan itu selalu jadi magnet buat anak-anak. 



"Singa Asam Manis"


Eing ing eng... ternyata memang tidak terlalu sulit "menyabotase" Eliza. Dengan catatan, saya dan ELiza lagi sama-sama waras ya. Hehehe. Sisi storyteller dalam diri pun masih ada. Sebagian besar dari kebersamaan kami habiskan dengan berdongeng dan bernyanyi. Cerianya Eliza apalagi waktu diajak berhayal tentang ikan dan singa. Suaranya kenceeeng!  Apalagi kalo lagi nyanyi lagu macam "Tik Tik Bunyi Hujan","Ondel-Ondel", "Little Finger", atau "Johny Boy" (Bou Era ,ini bukan ya judulnya?).




Eliza juga seru juga waktu diajak belajar main (baca : bersosialisasi) sama-sama anak-anak kecil lainnya di Rumah Tulang Uli pas persiapan acaranya Uli. Semacam pengalihan gitu deh biar quality time Eliza dan Namboru Evi minim gadget. Mending main air dan tanah aja. Kotor sih tapi sensorinya terpakai. Tapi pas bagian lompat kodok, beuhh...nyerah! Kebayang deh anak ini pasti senang sekali kalau nanti ikut Sekolah Minggu atau sekolah beneran. Pintar dan baik hati selalu ya, inang.


Sayangnya, Namboru yang satu ini energinya terbatas banget. Gampang sekali kehabisan nafas. Sebelas dua belas sama Ompung Doli. Kalau udah kaya gini, Eliza dan Namboru jadi sama-sama gak waras. Hehehe... Beberapa hari selanjutnya kami terselamatkan dengan Bou Era. Kata Rina, Bou Era kan mama infal-nya Eliza. Hahahaha... Sayang deh sama kalian semua! ***




Tuesday, May 2, 2017

Dieng, Negeri di Awan

Eksplor Dieng!

Dieng. Konon, Dieng merupakan datarang tinggi yang jadi rumah para dewa. Dataran tinggi dengan pesona alam dan budaya yang indah. Kunjungan ke Dieng seakan menjadi perjalanan ke negeri di awan. Tinggi, dingin, dan indah!


Petualangan ke Dataran Tinggi Dieng membutuhkan persiapan yang matang dan tepat. Waktu yang tepat untuk memulai petualangan adalah dini hari. Saya sendiri berangkat bersama rekan-rekan dari GKI Gejayan Yogyakarta pada malam hari. Perjalanan Yogyakarta menuju Dieng berkisar 4 jam. Kami berganti kendaraan di Alun-alun Kota Wonosobo. Dari Mini Bus sewaan ke bus yang lebih mini lagi. Kendaraan tipe ini memang jenis kendaaraan yang tepat untuk berpetualang dalam kelompok grup (agak) besar.


Dieng berarti gunung, geologi, budaya, dan holtikultura yang atraktif. Dieng semakin menarik ketika kita berkunjung pada sekitar Juli dan Agustus. Suhu udara yang mencapai 00C di pagi hari membuat embun langsung membeku seperti salju. Dieng terasa seperti di Eropa!


1.      Gunung
Dieng itu luas! Secara demografis, Dieng terletak di wilayah administrative Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara.  Dieng punya beberapa gunung berapi aktif dengan beragam level pendakian. Gunung Sikunir (2.463 m), Gunung Sindoro (3.150), Gunung Sumbing (3.387 m), Gunung Prahu (2.595 m), dan Gunung Pakuwaja (2.463 m).


Gunung Sikunir merupakan jalur pendakian yang tepat untuk mereka yang ingin “paket hemat”. Terletak di Desa Sembungan, Gunung Sikunir membawa kita merasakan tiga sajian indah : Suasana desa tertinggi di Pulau Jawa, Golden Sunrise, sekaligus bersantai di Telaga Cebong. Tak lupa juga posko kuliner khas Dieng yang nikmat disaji di tengah udara dingin. Kita dapat memasang tenda di pinggir Telaga Cebong jika ingin bermalam di Dieng. Jika mau yang lebih praktis, kita juga dapat menginap di kendaraan pribadi atau bisa juga di penginapan sederhana di sekitar Desa Sembungan. Mulailah pendakian sekitar pukul 04.00 pagi ketika ingin menikmati Golden Sunrise ala Dieng.


Jalur pendakian Gunung Sikunir tergolong baik karena sudah berupa anak tangga yang sebagian besar dilapisi konblok. Ada pegangan tangga yang semakin memudahkan pendakian. Ada tiga posko di puncak Gunung Sikunir.  Puncak pertama hanya berkisar 1 km dari titik awal pendakian. Titik kemiringan tidak melebihi 45 derajat. Puncak kedua dan puncak ketiga hanya selisih beberapa ratus meter saja. Untuk pendaki dengan kondisi kesehatan yang terbatas, saya sarankan berjuang untuk mencapai di puncak pertama saja. Titik ini merupakan tempat yang paling tepat ketika ingin menikmati suguhan pemandangan matahari terbit dengan sempurna. Yah, kecuali langit lagi mendung!


Pemandangan Gunung Sindoro dari Gunung Sikunir 



  
2.      Geologi
Dieng juga surga geologi. Artinya, Dieng punya gas, uap air, dan material vulkanik khas gunung berapi. Dieng punya kawah dan danau vulkanik yang eksotis. Berbahaya tapi eksotis! Para pemandu jalan memberikan tips praktis kepada kami. Pergilah ke tempat yang gasnya punya warna yang kasat mata dan punya bau yang khas. Itulah tanda paling sederhana. Gas beracun justru “tersembunyi”. Damn!

 
Kawah Utama di Kawah Sikidang


Kawah aktifnya yang terus dipantau yaitu Kawah Candradimuka, Kawah Sibanteng, Kawah Siglagah, Kawah Sikendang, Kawah Sikidang, Kawa Sileri, Kawah Sinila, dan Kawah Timbang. Ada beberapa catatan penting nih :

-        Kawah Candradimuka. Sering banget nih denger istilah Kawah Candradimuka. Entah mengapa ada rasa Soeharto ketika mendengar mendengar penjelasan tentang kawah Candradimuka. Hehehe.. Kawah ini tergolong besar dan tidak terlalu direkomandasikan untuk dikunjungi.
-        Kawah Sibanteng. Terakhir meletus pada Januari 2009 dan mengeluarkan gas beracun.
-        Kawah Sikidang. Kawah ini paling aman sehingga jadi kawah paling populer bagi para wisatawan. Nama Sikidang diambil dari kata “kidang” dalam bahasa Jawa berarti kijang. Diberi nama Sikidang karena lubang kawah di Sikidang sering berpindah-pindah. Satu hal yang keren dari Kawah Sikidang, kita dapat melihat kawah belerang yang panas dan meletup-letup dari jarak sekitar 3 meter saja. Blup.. blup… blup…
-        Kawah Sileri, Kawah Sinila, dan Kawah Timbang merupakan kawasan “The Big No”.  Kawah ini punya potensi besar mengeluarkan gas CO2 alias gas karbondioksida.


Lho, kok karbondioksida berbahaya? Bukannya manusia dekat sekali dengan CO2? Yaps.. Tapi ingat lho, dalam dunia sehari-hari kita menghirup oksigen lebih dulu baru kemudian mengeluarkan nafas dalam bentuk karbondioksida. Bukan kebalikannya. Kalau dibalik, bablas lah nyawa kita. Ini dia yang disebut pembunuh sadis ala Dieng. Gas yang tidak berbau, tidak berwarna, dan muncul tiba-tiba dari retakan tanah. Warga Dieng punya catatan kelam pada sekitar Tahun 1979 ketika gempa yang muncul di pagi hari. Warga yang baru bangun dari tidurnya langsung panik ke luar rumah. Tanpa sadar mereka justru terperangkap di dekat lokasi retakan sumber gas CO2. Ratusan orang mati seketika.


Dieng juga menyajikan danau vulkanik yang terbentuk dari letusan gunung. Penduduk sekitar lebih senang menyebutnya tlogo yang artinya telaga. Dieng memiliki Telaga Cebong, Telaga Warna, Telaga Merdada, Telaga Pengilon, Telaga Dringo, dan Telaga Nila. Semua punya kekhasan masing-masing.


Hujan dan stamina yang sudah sisa-sisa di Telaga Warna.
Padahal kalau cuaca mendukung, Telaga ini oke banget untuk jadi objek foto.



Telaga paling populer :
-        Telaga Cebong. Lihat info tentang Gunung Sikunir.
-        Telaga Warna. Telaga yang unik. Ada kandungan belerang yang membuat air danau bernuasa warna merah, hijau, biru, lembayung, dan putih.
-        Telaga Pengilon. Warna airnya bening.
-        Telaga Merdata. Telaga paling besar. Sumber utama pengairan pertanian warga sekitar.  


3.      Budaya
Dieng diduga menjadi salah satu lokasi kerajaan di Dinasti Sanjaya. Ada beberapa candi beraliran Hindu yang tersebar di beberapa titik. Tidak ada prasasti yang membuktikannya, sih. Alhasil, warga sekitar memberikan penyebutannya sendiri untuk berbagai candi yang ditemukan di Dieng. Ada candi Bima, Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, dan candi lain yang saat ini masih dalam tahap pemugaran. Candi ini terletak begitu apik dan teduh d Kompleks Candi Arjuna.






4.      Holtikultura
Dataran tinggi yang sejuk dan kandungan vulkanik di dalam tanah menjadikan Dieng sebagai kawasan pertanian yang subur sekali. Komoditas utamanya adalah kentang dalam berbagai varian; kentang mini, kentang ungu, kentang merah muda, dan kentang hitam.

Zamira, anak Dieng, membantu ibunya mencuci kentang mini yang dijual dengan harga Rp5.000/kg. Kentang Dieng punya rasa yang manis dan gurih walau dimasak dengan cara direbus saja. 




Ada tanaman khas Dieng yang tidak ditemukan di tempat lain yaitu carica (papaya gunung), purwaceng (berkhasiat tinggi untuk kejantanan pria sehingga dijuluki Viagra van Java), dan cabe dieng (cabe super pedas yang sekilas mirip perpaduan paprika dan jalapeno). Sungguh surganya holtikultura!


Jadi, tertarik untuk berkunjung ke Dieng?

Ada Dieng Culture Festival lho pada 4 s/d 5 Agustus 2017


Thursday, February 16, 2017

Istirahatlah dengan Tenang Ya Pung

Gugupku baru saja hilang setelah aku selesai menjalankan tugas di Persekutuan Karyawan Kamis (16/2) di GKI Gejayan. "Opung doli meninggal..", begitu pesan singkat di grup Pasukan Bodrex Siahaan. Seketika itu juga rasa panik kembali muncul.

Ah, opung! Aku benar-benar kaget, pung! Serius pula ompung tinggalkan kami semua. Kudengar memang cerita tentang Ompung dari para tulang dan sepupu yang rutin berkunjung ke Balige. Tapi, tak kuduga dengan cara tiba-tiba begini.

Masing-masing dari kami di grup pun saling bertukar informasi. Mama kami, mamatua, tulang.. Kepedihan menyerang mereka lebih dan lebih lagi. Tangisan demi tangisan bersusulan. Jiwaku pun menangis karena aku tidak bisa peluk mama di Jakarta sana.
"Kamu bisa temani mama pulang, inang?" tanya mama sambil terisak-isak.
"Nggak ma. Aku pasti ga kuat, ma", jawabku tanpa berani mengulik lebih dalam lagi perasaan mama. Pak, kami titip mama ya.

Ah, pung. Aku tidak suka menulis tentang kematian. Perih, pung. Inginku, aku mendukung mereka yang masih hidup saja melalui tulisanku. Tapi coba lihat apa yang mama lakukan, pung? Dikirimnya foto ompung doli dan ompung boru yang keren banget itu di depan HKBP Balige usai pemberkatan nikah Tulang Hasan & Nan Tulang. Akhirnya aku menyerah. Meneteslah air mataku..

Pung, banyak lho cerita kita. Aku beruntung menjadi cucu generasi perdana bareng Ai. Kami banyak menerima perhatian ompung sewaktu masih gagah dulu. Ompung pun masih berani bepergian sendiri di Sumatera dan Jakarta dulu. Aku ingat, pernah ketakutan sewaktu dulu masa SMA nekat jalan-jalan tanpa seijin bapak mama namun tiba-tiba kulihat Ompung berdiri sambil bertolak pinggang dengan muka galak di Lampu Merah HEK. "Mati aku!", pikirku saat itu tanpa berani meminta sopir angkot berhenti agar Ompung bisa naik. Padahal mungkin saat itu Ompung sedang kesal menunggu angkot sepulang dari rumah Tulang Olan. Berwibawa sekali Ompungku ini sampe ngeri aku dibuatnya dengan melihat sekilas saja. 

Ah, pung! Nunga mulak ho tu jabuni Debata. Istirahatlah, pung! Nunga sae ma tugas ni Ompung tu hami di portibi on. Mauliate godang ompung doli hasian ni hami. Pasahat ma tabiku tu Ompung Gondut di san. Ummaa.. 

Sunday, January 29, 2017

25 Hari Bersyukur : The Abangs ke Jogja

Hari ke 6 - The Abangs ke Jogja

Masih tentang 25 Hari Bersyukur, kali ini tentang pertemuan dengan mereka. The Abangs! Di Jogja pula. Kesempatan langka.

Saya sedang menantikan penampilan penampilan Paduan Suara Mahasiswa Ukrim di Natal BKSGK Sleman saat tiba-tiba Mama Rinta beri kabar tentang para abang yang mencoba meraba jalan dari Salatiga menuju Jogja. Seketika itu juga buyar rencana untuk menikmati indahnya komposisi vokal dari teman-teman pemuda. Btw, Alfa ganteng sekali dengan kemeja biru tua menyala, dasi hitam minimalis, dan celana slim fit hitam. Wkwkwk... Tiba-tiba saya ngeh maksud Ruben tentang "pesona" Alfa. Hahahaha..

The Abangs yang datang kali ini adalah Mas Alex & Mas Johnny. Pasukan cukup lengkap. Ada Mbak Tika, Putri, Astrid, dan Lily. Ada Mbak Wiwik, Rangga, Anggi, dan juga si mungil Aldi. Rame! Mereka baru selesai resepsi nikahan Alfred di Kendal. Selamat menempuh hidup baru ya, fred!

Kumpul, kumpul, kumpul. Ngantuk langsung buyar begitu ada ayam goreng bacem. Cuma mama yang tidak bergeming sama cemilan berat penuh kolesterol tapi penuh godaan itu. Hahaha..

Duh, maaf ya kami menjamu ala kadarnya. Tapi kami seneng bisa kumpul dengar The Abangs. Obrolan, kumpul-kumpulnya, dan jalan-jalannya pasti belum puas. Makasih juga sudah nyamper ke tempat kerjaku.

Kapan-kapan kalau waktunya pas, kita muterin Jogja lebih lama ya. Jajal kuliner lain. Foto-foto di spot lain yang keren di Jogja.

-Peluk sayang dari kami di Jogja-

Sunday, January 15, 2017

25 Hari Bersyukur : Hari ke 5 - The 72 yo Mama



"B'ri syukur, b'ri syukur, b'rilah syukur selalu 
Susah ataupun senang b'ri sykur
Panjatkan doamu, setulus hatimu
KasihNya kini jadi milikmu"


Tulisan ini rangkaian dari 25 Hari Bersyukur yang terinspirasi dari kuis Pdt. Ratna Indah Widhiastuty dimana saya gagal dengan suksesnya. Saya pun menantang diri saya sendiri untuk berdamai dengan pikiran dengan cara menuliskan 25 hal baik maupun kurang baik dalam hidup saya. Sungguh, saya bersyukur dengan semua hal tersebut!



25 Hari Bersyukur : Hari ke 4 - The 72 yo Mama
Ini dia Mama Rinta. Mama mertua saya yang tepat pada 8 Januari 2017 berulang tahun ke 72. Seumuranlah sama Indonesia. Hehehe.. 

Yups bener 72 tahun. Puji Tuhan mama masih tergolong sehat dan kuat. Sebenernya mama doyan jalan-jalan. Tapi kami agak kesulitan untuk sering-sering mewujudkan kemauan yang satu ini karena Jogja bukan kota yang ramah kendaraan umum. So far, mama sudah cukup menyenangkan dirinya dengan berpetualang naik Trans Jogja tiap dua bulan sekali bareng saya dan Ruben dengan rute rumah Mama ke Carrefour. Hehehe... 

Tahun ini, Mama merayakan ulang tahun di Pantai Ngandong, Wonosari, Gunungkidul. Gilanya lagi, Mama masih kuat mendaki ke atas tebing Pantai Ngandong demi melihat pemandangan indah laut selatan. Padahal dengkulnya Mama suka "korslet". Begitu sampe di atas, hilang deh yang namanya dengkul sakit, batuk-batuk, dan senewen karena suasana di atas seriusan keren! Giliran kami yang dag dig dug karena kami mencium gelagat Mama yang mau menyusuri batu karang yang tajem tajem itu dengan gaya Dora The Explorer. Wkwkwkwk... 

Selamat 71 tahun ya, Ma. Tetep jadi wanita tangguhnya yang mempersatukan kami ya. Gandengan tangan dan doa-doa Mama jadi kekuatan bagi kita semua untuk menyelesaikan lika-liku hidup yang absurd ini. Kami sayang Mama.