Showing posts with label film okeh.... Show all posts
Showing posts with label film okeh.... Show all posts

Saturday, August 30, 2014

The Attractive Gary Oldman

One more post before i take a (fake) sleep. Hahahaha.. This time is about Gary Oldman. He is just another brilliant actor i ever seen. 

Have you ever heard the name of Gary Oldman? How about Sid Vicious? Okay let's say that you are the younger generation. I think you must be familiar with James Gordon, the famous idealist cop in Batman. Or, maybe Sirius Black from Harry Potter. I guess you might say, "Yes i do know that name!"

Yes, Gary Oldman is the man behind those characters. I never realize how amazing Gary Oldman is until i watched Sid and Nancy. Although it is a classic and a kind of 'disaster' movie, i finally realize how amazing Gary Oldman is.   


I enjoy the classic movie on these lately months. Thank you for my hubby who let me watch a lotttt offf movies in my post surgery time. Hahaha.. Yes, most of the movies i watched is the classic one. One of the interesting classic is Sid and Nancy.

Picture : Wikipedia

Sid and Nancy. I knew this movie from another my spectacular movies list, 500 days of Summer. This is some kind of biography of Sidney Vicious. Sid is the bassist of British punk group band, Sex Pistol. Handsome, talented, popular, and British. Sid is really attractive!

The story line of Sid and Nancy was totally telling about disaster of life. Drug, sex (of course), drug again, sex again, and ending with suicide. Sid played by Gary Oldman and Nancy play by Chloe Webb. This couple really had a messy life. They can't stop from drug addiction until one day Sid accidentally stabbed Nancy. Nancy died. Sid got shocked because he killed his true love.


Enough about Sid and Nancy. Check his another movies, Harry Potter. Gary Oldman played the role of Sirius Black. He is the godfather of the famous Harry Potter. I never like the movie version of Sirius Black because (in my opinion) he didn't match with Sirius Black description. He is too small. But one day, i watched Harry Potter : The Prisoner of Azkaban again. Then i realized Sirius is Sid Vicious. I mean, they have the same appearance and character. 

So i checked Wikipedia. Hahaha.. Obviously, Gary Oldman really like those kind of character. He loves controversy acting role. He just looks so 'normal' in Batman Movie. Hahahaha.. O, Gary O! You are old but you still rock, man!  
   
Picture : HeyUGuys
  


Thursday, September 19, 2013

Bombardir Tembakan di Naval Yard, Kok Kaya Adegan di NCIS ya..

Photo : usatoday.com

Naval Yard di Washington DC mendapat amukan senjata gila-gilaan dari seorang lelaki bernama Aaron Alexis. Sekitar 12 orang meninggal karena serangan mendadak itu. Markas Angkatan Laut US itu heboh karena semua orang di kantor Navy sibuk menyelamatkan diri. Presiden Obama pun geram karena dia merasa kecolongan. Padahal beberapa hari sebelumnya Amerika Serikat baru memperingati Tragedi 11 September.


Shocked! Itu yang terlintas dalam pikiran gw. Gileee... Kejadian itu bukan proses pengambilan gambar untuk syuting NCIS Season 11. Aksi sadis tersebut bener-bener kenyataan. Gw langsung cerita ke Ruben yang ternyata juga berpikiran sama. Ternyata bukan adegan film. Sayang pemberitaan penyerangan ini cuma mampir sebentar di tayangan berita televisi nasional di Indonesia. Maklum, kami tidak menggunakan TV berlangganan di rumah.

Gw pun menjelajah ke dunia maya untuk memastikan lanjutan peristiwa penyerangan di Naval Yard. Tak lupa mampir ke Fan Page NCIS untuk melihat reaksi penggila NCIS di Facebook. Sayangnya kabar tentang Tragedi Naval Yard masih kalah dengan berita hengkangnya Cote de Pablo dari NCIS Season 11 yang akan tayang akhir September 2013 nanti. 

Sebelum menutup halaman Fan Page NCIS, gw sempat menuliskan sebuah komentar tentang aksi gila di Naval Yard. Gw sukses dapet komplain karena sambungin NCIS dengan Tragedi Naval Yard. Soalnya kan Gibbs and team itu tokoh fiksi yang tidak akan membantu keluarga korban, local LEOs, dan FBI untuk memecahkan kasus penembakan edun itu. Iya sihh.. Gw memang terlalu sering menyampur-adukan dunia fiksi dan non fiksi. Tadinya gw berniat melanjutkan diskusi dengan meralat kalilmat "What will Gibbs do?" dengan kalimat "What will Fornell do?". Hehehehe.. Peace!

FYI, NCIS itu adalah tayangan serial televisi yang membahas investigasi kejahatan yang menimpa anggota Angkatan Laut AS dan keluarganya. Yah, semacam CSI tapi dikerucutkan kepada kasus kejahatan di lingkungan Navy. Gara-gara NCIS, gw yang anti sama militer jadi jadi belajar banyak tentang dunia militer. Kebanyakan ya memang tentang dunia Navy. 

Semakin lama gw keranjingan banget sama NCIS. Kuping dan pikiran suka gatel setiap mendengar nama Navy, Leroy Jehro Gibbs, Tobias Fornell, Antony DiNozzo, Timothy McGee, Abigail Scuito,Cote de Pablo, Ducky Mallard, dan Jimmy Palmer. I'm a NCIS freaks! I love NCIS but i also a big fan of Ari Hiswari.. xoxoxoxo... Dia penjahat yang ganteng :p..

Terimakasih kepada teman-teman di Fan Page NCIS yang sudah menjelaskan perbedaan NCIS di film dan dunia nyata. Ternyata sejak empat tahun lalu, Kantor Pusat NCIS udah pindah dari Naval Yard di Washington DC ke Quentico. Di Naval Yard yang jadi lokasi penembakan Aaron Alexis itu cuma ada kantor perwakilan aja. Jadi, sekalipun Gibbs lagi syuting pasti mereka selamat dari bencana. 

Bagaimana pun juga, gw turut berduka cita untuk peristiwa penembakan di Naval Yard. Semoga keluarga korban mendapat ketabahan. Semoga juga FBI yang jadi penanggung jawab bisa menangani kasus sampai tuntas. Amin!


Friday, May 24, 2013

Rectoverso ala Epoy

Rectoverso. Akhirnya nonton juga! Tahun 2008, gw jatuh cinta banget sama buku bersuara ala Dewi Lestari yang dikasih judul Rectoverso. Kesepuluh lagunya, kesepuluh cerita pendeknya, aih.. cinta banget! Kemarin gw akhirnya berhasil menikmati Rectoverso, filmya, yang dipercantik oleh lima perempuan  tidak biasa bernama Marcela Zalianty, Rachel Maryam, Olga Lydia, Happy Salma, dan Cathy Sharon.

Lima tahun setelah pembuatan, gw masih jatuh cinta sama Rectoverso. Malaikat Juga Tahu, Aku Ada, dan Peluk. Itu tiga lagu dan cerita yang jadi kesukaan gw dari Rectoverso. Hmm.. satu lagi sih. Itu tuh Lukman Sardi. Damn, he's so charming! ^__^  Dulu, gw dan Gregorius Magnus Finesso, sahabat gw, ga akan beranjak dari kost masing-masing sebelum nonton video klip Malaikat Juga Tahu. Walau singkat, video musik itu sukses mengubek-ubek emosi jiwa.   

Tahun 2013, Rectoverso menjelma menjadi film omnibus. Ada lima cerita, dari total sepuluh cerita ,di dalam Film Rectoverso. Jalur kelima cerita tetap sama. Banyak nama-nama handal yang menjadi tokoh di depan dan juga di balik layar. Pemeran cameonya pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Berbagai selebritas hingap sesekali di sana dan di sini. Seharusnya film ini keren. Gw yakin film ini bakal sukses mengubek-ubek emosi. Sinematografi film ini sih juga mantep. Indah! Tapi ternyata ubekannya nanggung. Seperti biasa, Rectoverso lebih mampu mengekspresikan segenap jiwa yang berada dalam sebuah buku dan lantunan lagu. 



Film diawali dengan adegan Lukman Sardi yang memainkan biola lalu memeriksa piramida sabunnya. Gw langsung ngeh pasti ini Malaikat Juga Tahu. Lukman Sardi, si Abang, merupakan penderita keterbelakangan mental. Abang tinggal bersama Bunda yang membuka kost bagi pekerja muda di Jakarta. Keterbatasan tidak membuat Abang terlihat menderita. Abang mampu membantu pekerjaan rumah tangga di sela-sela rutinitasnya yang tidak biasa. Kehadiran Lea, salah satu penghuni kost Bunda yang diperankan oleh Prisia Nasution, memberikan arti luar biasa bagi Abang. Lea sangat sabar dan begitu memahami jiwa Abang. Abang pun jatuh cinta. Namun cintanya yang begitu besar terhadap Lea terbentur kehadiran Hans, adiknya Abang yang sempurna dan manis. Hans mencintai Lea dengan segala keindahan dalam diri Lea. Sedangkan Abang, dia mencintai Lea dengan sepenuh hati dan jiwa. Pertemuan akting Lukman Sardi, yang walau menurut gw agak sedikit kurang greget menjiwai karakter penderita keterbelakangan mental, dan Prisia Nasution bisa jadi kunci utama pencapaian klimaks cerita. Adegan ketika Lea membaca secarik kertas berisi tulisan Abang menjadi titik poin yang sukses membuat gw tercabik-cabik. Aihh....

"Seratus sempurna
 Kamu satu tapi lebih dari sempurna"


Cerita kedua, yang muncul dengan alur berlompatan, berjudul Firasat. Dalam cerita ini, Asmirandah, Dwi Sasono, dan Widyawati beradu argumentasi tentang firasat. Mereka berdua memang anggota klub firasat yang bahu-membahu menghadapi firasat dalam kehidupan. Menurut Panca, firasat merupakan cara alam untuk berkomunikasi dengan manusia. Sayangnya banyak manusia yang mengacuhkan percakapan dengan alam padahal sebenarnya manusia itu terlahir dari alam. Senja sebenarnya jengah dengan firasatnya. Dia benci dengan naluri untuk bisa mendeteksi hal buruk yang akan terjadi kepada orang lain di sekitarnya. Dia benci karena tidak bisa melakukan hal apapun untuk membatalkan peristiwa buruk. Kebencian yang berlebihan sehingga Senja tidak bisa bersiap-siap ketika firasat buruk itu ternyata ditujukan kepada dirinya. Filosofis yang dalam bahasa dan cerita yang sederhana penuh arti.

"Apapun yang akan terjadi memang harus terjadi. 
Terkadang, menerimanya merupakan satu-satunya cara untuk memahaminya. 
Semua pasti akan baik-baik saja.."

Cerita ketiga bercerita tentang persahabatan antara Acha Septriasa sebagai Amanda dan Indra Birowo sebagai Reggie. Curhat untuk Sahabat. Amanda dan Reggie menjalani persahabatan yang lama. Reggie selalu setia menjadi sahabat Amanda dengan segala kisah cintanya. Sampai akhirnya Amanda sadar bahwa seorang sahabat dengan segelas air di tangannya terasa jauh lebih berharga dari puluhan kekasih yang berprestasi. Entah telinga gw yang agak tersumbat, menurut gw Acha kurang greget menyanyikan lagu Curhat untuk Sahabat. 

Pada cerita keempat, Sophia Latjuba sukses berat membawakan peran Saras dalam Cicak di Dinding. Seksi, sederhana, dan elegan. One night stand antara Saras dan Taja berujung kegalauan jiwa. Cicak menjadi ornamen yang eksotik namun tidak sensual. Padahal di sana ada Tio Pakusadewo, the sexy man. 

"Cicak itu binatang yang penuh kesetiaan. 
Terus setia menempel di dinding walau dia sering diacuhkan manusia.
Padahal cicak terus ada di sana untuk menjaga manusia dari nyamuk"

Terakhir, ada Hanya Isyarat. Cerita tentang kelompok backpacker yang rutin berpetualang ke berbagai tempat. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Sampai akhirnya, Al jatuh cinta kepada Raga yang hanya bisa dia pandangi bagian punggungnya saja. Namun ternyata Raga memiliki suatu rahasia besar sehingga Al tidak akan bisa mendapatkan cinta Raga. Namun Al sudah puas. Setidaknya, dia pernah merasakan pancaran mata coklat muda Raga walau hanya sebentar. Itu sudah lebih dari cukup. Hidup punggung!

Oiya, pengisi lagu di film Rectoverso juga bagus lho! Ada lima lagu ciptaan Dewi Lestari yang menjadi soundtrack setiap ceritanya. Nuansa jazz dan akustik membuat setiap kata dalam lagu terasa lebih menohok hati. Terimakasih ya Glenn Fredly, Drew, Raisa, dan Dira Sugandhi untuk versi baru lagu Rectoverso. Keren.. Keren... Sadis!


***


Tuesday, November 1, 2011

The Chocolat of Johnny Depp? Sounds 'Yummy'!

..I'm Looking for The Chocolat of Johnny Depp..

It's 1 AM and I am totally exhausted! Actually I suppose to prepare the lollipop and bluebird things for tuesday lesson but just like what I said, I am exhausted..

So.. I laid down on my messy bed. Try to have some sleep. It was raining outside. Hmmm I love the smell of rain. What a wonderful friend for this midnite time. I gueess.. Buuuuutttt.... I am wrong! I still can't sleep.

I tried to close my eyes and guess what I see on my mind.. JOHNNY DEPP! Wuakakaka... How come! Then I browsing some info about him (and some cool pic for my wallpaper *big-grin*).



Okay, let's check it out! How deep Mr. Depp contaminate my life:
»Edward Scissorhands (1990)
»Benny and Joon (1993)
»Pirates of Caribean
»Secret Window
»Corpse Bride
»Charlie and The Chocolate Factory
»Public Enemy
»Finding Neverland
»Once Upon a Time in Mexico
»Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street
»Alice in Wonderland
»The Imaginarium of Doctor Parnassus
»The Tourist


The browsing time was end up with one big resolution : finding CHOCOLAT! Another great movie from John.. Okay okay, I'll find you!

Friday, October 14, 2011

A Special Symphony from Special Student

This is the quote from Bu Rinjani, the headmaster of SLB Cahaya Mulia. She give this sentence to Jayden, the suddenly teacher music for the special needs student.
"This is not a place for experiment or the place for killing your time while you waiting for your next luck. You can life anytime you want.."
"It's not my life!"

Two days later Jayden came back to the school. He said these ones in front of the class:
"... I'm sorry kids for leaving you. Now I realize something. It's not "you need me" but "I need you all". You mean so many things to my life."

I like this movie! Ira Wibowo and Christian "Babyface" Bautista gave a 'sinetron' touch to the movie. But Ira Maya Sofa and the special needs student fixed them all. I think I will downloading their song as soon as posible.

♬Tak selamanya
Mendung itu kelabu
Nyatanya hari ini
Kulihat begitu ceria

Hutan dan rimba
Turut bernyanyi pula
Membuat hari ini berseri
Dunia penuh damai

Bintang berkelip
Dengan jenaka
Seakan tahu
Arti dan rasa

Oh kidung yang indah
Kau luputkan aku
Dari sebuah dosaku

Tak selamanya mendung itu kelabu
Nyatanya hari ini
Kudapat bernyanyi kepadanya♬

Monday, August 2, 2010

Before You Say 'I Do' - The Movie




Being bedrest, hardly to do and even thinking sumthin, so... watching movie is a good solution. It was becoming a nice one when you god a wonderful film. Hihihi... Just like what i'm feeling after enjoyed Before You Said 'I Do'. It really a sweeeeet movie...

Yes, Before You Say 'I Do' is a kind of romance film. So simple but touching. The angle of film, the way to describe a lovely feeling, how the movie does remind me about several things in my life...hmm those are the reason why i still keep smilling ;-)

Here they are, a not-too-longer info about Before You Say 'I Do'. It's written by Elna Knupp, directed by Paul Fox, released on 14 february 2009, produced by Marvista Entertainment, and distributed by Halmark Channel. (p.s : In my mind, Halmark is a symbol of many qualified lovething. That's why i copied this epoy-never-seen movie).

Film's begin with the song of I Love You for a Sentimental Reasons. Describing about two in love people, George Murray (David Sutcliffe) and Jane 'Jayney' Gardner (Jennifer Westfelay). George really loves Jayney. He proposed Jayney but she's too afraid to get married. Jayney had a trauma from her last relation, with a man called Doug (Jeff Rood). Doug had an affair with their wedding planner. They even made out in the suite Doug-Jane Honeymoon Room at reharseal wedding ceremony. Actually, Jane caught up Doug's bastar* behaviour but she couldn't angry to Doug. Until Doug really left her for that tempting wedding planner. Doug broke Jane's heart so muchh...

Then, Jane met George. She falls in love again but now she found a different love. This time Jane have a nice, care, soft, patient, loyal, not selfi sh, understand her soul, and pure loveable man. She loves George every single day but afraid to be married.

After a touching persuation, Jane finally accepts George's proposal. They get engaged although Janed couldn't hide her anxiety. She runaway from George in the night after engagement party.

When realized lost his future wife, George try to meet Janey. He raced with yellow sign traffic light while making a wish could meet Jayney before wedding day. Unfortunately, George got crash with other car and found himself live in 'Twilight Zone' when he opened his eyes.

Yups, twilight zone. George go to 10 years ago. From November 2nd 2009 to November 2nd 1999. That means, it's 3 days before Jane-Doug Wedding Ceremony. Bla, bla, bla, fairy tale begins.. But i guarantee you'll be got curious and smiling while enjoying George's advanture to 'get his Jayney back'.



George able to take his Jayney from Doug. They runaway from the ceremony, making yellow-light-wish, but crash (again) cars. This time when wake up, George found himself at a wedding situation. He is really happy because that was his re-ceremony to celebrate George-Jayney 10 years anniversary.

Hahaha... Such a real fairytale, isn't it..
But i like this movie.
Looks like that i will sing : "I love you for a sentimental reasons" for lately day. ^^

Wednesday, July 14, 2010

Obrigado!



Bukan! Saya sedang tidak berbicara tentang teman SMP saya duli di Slamet Riyadi Jakarta. Hehehe.. Ini melainkan tentang Tanah Air Beta. Film terakhir Ari Sihasale dan istrinya, Nia Sihasale Zulkarnaen yang dirilis sekitar pertengahan Juni lalu. Judulnya diambil dari penggalan lagu Indonesia Pusaka. Font tulisannya Indonesia sekali. Merah dan putih. Btw, obrigado itu bahasa timor yang artinya terimakasih. Kata-kata ini banyak muncul dalam dialog makanya terngiang-ngiang terus sampai sekarang


Tanah Air Beta dan Tatiana

Filmnya dimulai dengan adegan pengungsian besar-besaran gara-gara Referendum. Sebagain warga memilih tinggal di wilayah Republik Indonesia dan sebagaian ke Republik Demokratik Timor Leste. Beberapa dari antara mereka ada seorang perempuan bernama Tatiana (diperankan oleh si sosialita cantik Alexandra Gottardo) dan anak perempuan berusia 10 tahun (Griffit Patricia). Mereka memilih tinggal di Indonesia namun sayangnya terpaksa meninggalkan Mauro (Marcel Raymond), kakak Merry, di rumah sang paman yang lebih memilih Timor Leste.

Sebagai ibu muda yang juga telah kehilangan suaminya, Tatiana berusaha keras untuk bertemu kembali dengan anak pertamanya. Berkali-kali dia datangan ke posko relawan di Mota ‘Ain agar bisa mengirim pesan kepada anaknya melalui para relawan (Lukman Sardi lhoooo….hihihi…cling-cling.. tapi dia cuman main figuran aja L ). Tatiana hanyalah satu dari ribuan orang yang berusaha berhubungan kembali dengan sanak keluarga yang terpisah gara-gara Habibie (hehehe…referendum kan keputusannya professor salah arah yang satu itu). Selain itu juga ada Abu Bakar (Asrul Dahlan). Dia mati-matian ingin bertemu dengan istrinya. Abu Bakar ini orangnya gokil buanget! Dia jadi penggembira suasana di sepanjang jalannya film. Akalnya panjang cenderung nyeleh tapi pede. Misalnya aja walau ga bisa baca tulis, dia kirim pesan nyentrik pake puisi dan lagu khas Timor lewat recorder relawan. Tapi saking panjangnya si relawan kabur di tengah pesan. Ada lagi yang duduls dari Abu. Waktu (stasiun pengisian bahan bakar umum) SPBU melarang pembelian bensin dengan jerigen tuh. Eh Abu ga kehabisan akal. Dia ngerubah tangki bensin motornya jadi segede jerigen. Wuahahahaha… bisa aja dah. Idenya diikuti orang lain. Warga sana jadi tetep bisa jualan bensin deh.

Dalam kesehariaannya Tatiana bekerja sebagi guru. Gilingan serius Alexandra beda banget dah di sini. Mungkin karena sudah terbiasa melihat dia dalam gaya hidup yang cosmopolitan sekali, saya jadi terkagum. Di sini dia tampil dekil dan kumuh namun tidak menyurutkan kecantikannya sama sekali. Tatiana mengajar sekitar 20 orang anak. Dua di antaranya Merry dan Carlo (Yehuda Rumbini). Musuh bebuyutan yang sering banget berantem. Carlo emang bandel namun menganggap Tatiana, Merry, dan Abubakar sebagai keluarganya sendiri. Maklum, dia yatim piatu. Bapaknya tentara. Tewas ketika bertugas. Sang mama meninggal karena tuberculosis.

Singkat cerita, Mauro sakit hati. Dia menanggap Tatiana sengaja meninggalkan dia di Timor Leste. Melaui relawan Mauro menitip pesan hanya ingin menemui Merry saja di Jembatan Air Mata. Hehehe namanya memang begitu karena di jembatan itulah para keluarga yang terpisah bisa saling bertemu. Di sana sarat dengan air mata akibat keputusan pemerintah Timor Leste untuk memerdekakan diri dari Indonesia.
Merry yang marah sekaligus kangen banget sama kakaknya nekat memutuskan pergi ke perbatasan dengan perbekalan seadanya. Lengkap dengan hadiah kaos oblong yang dibelinya dari Koh Ipin (Robby Tumewu) dan Cik Irene (Thesa Kaunang). Hihihi baru kali ini ngeliat orang Cina rela menjual barang dagangan seharga Rp50.000,00 hanya dengan Rp5.000,00. Udah gitu ngasih coklat sama air mineral pula. Jarang-jarang dah.

Duit Merry emang terbatas banget. Dia bahkan cuma bisa naik angkutan sampai setengah perjalanan saja. Sisanya dihabiskan dengan berjalan kaki. Padahal perjalanan dengan motor bisa memakan waktu 8 jam. Tatiana dan Abubakar yang panik minta tolong Carlo menyusul Merry sampai dapat. Carlo hebat lho! Perpaduan antara rasa bersalah, takut akan omelan Abubakar, dan rasa khawatir menjadi kekuatan buat Carlo menyusul Merry. Sebelumnya kemarahan Merry memuncak karena Carlo ‘nyemplungin’ harmonika kesayanganya ke danau. Padahal itu harmonika pemberian Mauro.

Carlo akhirnya menemukan Merry di perjalanan menuju Atambua. Walau sempat ngomel-ngomel, Carlo bertanggung jawab sekali sama Merry. Tingkah laku Carlo inilah yang jadi satu-satunya aksi heroik dalam film. Mulai dari membawa Merry yang pingsan ke puskesmas terdekat (yang jaraknya tidak dekat itu), nyolong air minum dan ayam taruhan, cuci piring biar bisa dapet makan dari warung, sampai memastikan Merry mau berjuang bertemu dengan kakaknya.

Selanjutnya garing. Pertemuan Merry dan Mauro dibuat-buat banget. Cara mereka bernyanyi “Kasih Ibu kepada Beta” waktu saling mencari satu sama lain terasa tidak natural sekali. Ga lama kemudian datanglah Abubakar dan Tatiana. Mereka saling senyum dan menangis bersama. Abis deh…

Tanah Air Beta dan Balibo
Entah karena dipanasi oleh film Balibo yang sempat membuat heboh orang Indonesia atau bukan, Ari Sihasale bilang udah punya ide bikin Tanah Air Beta sejak tiga tahun lalu. Tapi memang baru tahun ini kesampaian dirilis. Ga tau juga. Yang jelas Tanah Air Beta sama-sama mengambil setting tempat di daerah Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste. Timor Lorosae Cuman film yang satu ini jauh banget dari tema politik seperti di Balibo. Ga ada darah-darahan, tembak-tembakan, tending-tendangan, apalagi konspirasi militer. Sementara Balibo…beeuuhhhh… Mengungkap sisi lain suasana di Timor-Timor sih. Sayanya aja yang ga kuat menyaksikan teman-teman wartawan dibunuh dengan cara gitu.

Tanah Air Beta itu film keluarga banget. Tema yang diusung kekeluargaan. Setipe sama King, Denias, Garuda di Dadaku. Sangat ringan tapi ga tertalu garing. Ya walau endingnya tetep ga asik. Cocok juga lah untuk anak-anak (ah tapi sepertinya anak sekarang ga doyan film kaya gini)
Saya sendiri emang suka film Indonesia macam ini. Mungkin ada yang beranggapan saya childish, sok nasionalis, atau kampring. Hehehe..tapi bener saya lebih suka menyimak film macam ini dibandingkan Twilight Saga dan teman-temannya. Apalagi film pocong-pocongan dan paha-pahaan. Kagak dah. Mending nonton film anak-anak dibanding ABeGe labil. Hahay.. ini menurut saya yaa.

Eh sebenernya agak-agak kagum juga sih. Film ini dirilis sekitar sebulan lalu. Kemarin (12/7) pas saya menonton di Studio 21-nya Ambarukmo Plaza Jogja ternyata antusiasnya masih tinggi. Padahal sekarang kan liburan sekolah sudah habis. Setidaknya setengah isi bioskop terisi penuh. Kalau saya tidak salah lihat, beberapa dari antara para penonton memiliki ciri fisik dan intonasi bicara yang sama dengan Tatiana, Abubakar, Merry, dan Carlo.

Jadi inget bentar lagi 17 Agustus. Indonesiaku akan berusia 65 tahun. Hehehe walau penggemar berat Argentina, saya ini Indonesia bangetlah. Masih bangga bilang Garuda di Dadaku (dan Albiceleste di punggungku :P ).

Wednesday, July 8, 2009

BRIDE AND PREJUDICE

Beberapa hari lalu Global TV menayangkan Bride and Prejudice. Akhirnya gw nonton juga versi Indianya film. Pride and Prejudice. Sampe sekarang gw memang belum baca novelnya Jane Austeen tapi gw selalu tergila-gila sama Pride and Priejudice. Kisahnya romantis namun tetep punya isi. Seenggaknya mengajarkan diri gw biar ga terlalu angkuh dan ga menjatuhkan prasangka sebagai justifikasi terhadap seseorang. The more you hate someone, the more he fills you mind. Jangan terlalu membenci seseorang dan jangan juga terlalu gampang memandang remeh sesuatu.

Bride and Prejudice serta Pride and Prejudice mengangkat tema yang sama. Bercerita tentang upaya dua orang yang berbeda latar belakang kehidupan namun akhirnya disatukan oleh cinta. Standar sih. Yang membuat film ini berbeda itu menggunakan latar belakang yang sangat natural sekali. Kalau di Pride and Prejudice memakai setting tempat Inggris dan waktu sekitar abad pertengahan. Sedangkan Bride and Prejudice merupakan perpaduan tiga negara di masa moderen yakni India, Inggris, dan Amerika Serikat.

Miskin vs Kaya
Kisah Bride and Prejudice dimulai dari tiga orang yang terkesima dengan kondisi Kota Amitsar, India. Ekspresi ketiganya bervariasi. Baltaj dan adiknya yang memang orang India kewarganegaraan Inggris sudah terbiasa dengan kumuhnya kondisi negara tersebut. Baltaj cenderung antusias karena hendak menghadiri pernikahan saudaranya. Tidak muluk-muluk, dia berharap dapat menemukan perempuan India yang dapat menambat hatinya dalam upacara pernikahan. Adiknya Baltaj (kalo ga salah namanya Tina) memang agak risih dengan kultur India namun masih dapat menguasai dirinya. Berbeda dengan keduanya, William Darcy sama sekali tidak menyukai segala hal yang ada di Amitsar. Dia benar-benar merasa menderita harus tinggal di sana selama 14 hari. Kehadirannya di India memang bukan untuk bersenang-senang, apalagi berjoget-joget sambil memakan suguhan yang dia curigai dapat menghancurkan pencernaan dalam sekejab.

Will Darcy merupakan anak pasangan pengusaha ternama asal Los Angeles yang punya hotel di berbagai negara. Keluarganya ingin mengembangkan usaha dengan membangun hotel di India. Menurut Keluarga Darcy, India terlalu kumuh sehingga jarang dipandang sebagi objek pariwisata bagi kalangan jetset. Orang-orang kaya bersedia mengeluarkan uang berapa pun demi mendapat suasana yang nyaman. Sekalipun harga sewa kamar bisa mencapai 5.000 dollar/malam [yang kala itu nilainya setara dengan bertahun-tahun upah para pekerja di Amitsar].

Pada periode ini seorang perempuan tidak diperkenankan untuk belajar. Indikator perempuan yang berkualitas itu cantik, bersih, pintar menari, dan penurut. Membuka diri terhadap hal-hal baru sama artinya dengan pembangkang. Perempuan kaya gini dicap sebagi calon menantu kurang ajar karena pasti ga bakal tunduk sama suami.

Dalam kurun waktu yang sama pula, kelas menentukan posisi seseorang dalam pergaulan dan jadi pengaruh ketika mencari suami atau istri. Pernikahan dengan seseorang yang berada dalam kelas berbeda akan menjatuhkan prestise. Tidak perduli walau sudah bangkrut, yang pentig gaya! Seenggaknya bungkus yang menarik bisa menarik perhatian para pria-pria lajang yang kaya. Soal cinta itu nomer seribu. Money, money, and Money. Lebih terutama berapa penghasilan selama setahun ketimbang etika dan moral seorang pria.

Sukacita pernikahan merubah segalanya. Para perempuan terlihat begitu cantik seperti pisau yang tajam. Menggoda tapi berbahaya. Menggoda karena keindahannya namun berbahaya karena para ibu-ibu yang ada di sana berlomba mencari lelaki kaya untuk dijodohkan kepada putri-putrinya. Putri-putri dari keluarga Bakshi jadi primadona. Baltaj langsung jatuh cinta kepada Jaya Bakshi, si putri pertama. Sementara Mr Darcy tidak mampu menahan diri ketika melihat pesona Lalita Bakshi, si putri kedua. Kisah Baltaj dan Jaya tergolong lancer karena keduanya saling klik. Berbeda dengan Lalita dan Willam. Lalita hobi mengatai William karena dia selalu menemukan sisi angkuh William. Di mata Lalita, William itu seorang hipokrit yang tidak punya perasaan terhadap orang dari negara miskin.

William sangat bertolak belakang dengan Johnny Wickham. Lalita mengenalnya ketika Baltaj mengajak Jaya dan dirinya berkunjung ke sebuah hotel di Goa yang ingin dibeli Darcy. Johnny seperti Prince Charming yang langsung menarik hati Lalita dengan semua keramahan [khas pria gombal! Hehehe ini sih murni opini pribadi]. Lalita pun tidak sungkan mengajak Wickham berkunjung dan menginap di rumahnya. Wickham mengaku ingin belum pernah mengunjungi Golden Temple di Amitsar padahal sampai hari terakhirnya di Amitsar Mr Wickham tidak terlihat tertarik sedikitpun dengan kota tersebut. Kedekatan Wickham dengan Lalita membuat Darcy mundur. Darcy, Baltaj, dan adiknya pun kembali ke negara masing-masing.

Mereka kembali bertemu di London. Keluarga Bakshi hendak mengunjungi pernikahan Kholi Saab dan Chandra Lamba di California. Kholi Saab itu seorang akuntan yang sangat mengagung-agungkan Amerika Serikat untuk menarik perhatian para perempuan di India. Obesesinya pada AS tidak membuat dia tertarik memperisitri perempuan asing dan lebih memilih perempuan tradisional di India. Kholi berpikir setiap perempuan di India pasti takjub dengan dirinya yang saking mapannya sudah memiliki Green Card. Tapi dia ditolak mentah-mentah oleh Lalita. Beruntung akhirnya Chandra Lamba, sahabat Lalita yang punya kepribadian bertolak belakang dengan Lalita, mau menerima pinangan Kholi. Chandra dan Kholi melaksanakan pesta pernikahan mereka di Los Angeles dan mengundang keluarga Lalita untuk hadir.

Perjalanan London – LA mulai mengubah cara pandang Lalita tentang William sang Mr Pride. Supaya bisa berdekatan dengan Lalita, Will menukar tempat duduknya di kelas satu British Airways dengan kursi Mrs Bakshi di kelas ekonomi. Lalita yang awalnya risih mulai bisa menerima kehadiran Will namun kembali gusar ketika pembicaraan beralih tentang Wickham. Romantisme ala Darcy dan Bakshi pun dimulai. Pernikahan Kholi – Chandra yang berlangsung di hotel keluarga Darcy yang berada di kawasan Beverly Hills membuat intensitas pertemuan Will dan Lalita semakin tinggi. Lalita yang cerdas semakin mempesona William. Selama ini tidak ada satu pun perempuan yang tahan berada di dekat Mrs Darcy namun Lalita mampu menjatuhkan pandangan Mrs Darcy tentang India.

Kisah cinta Lalita dan William tidak berlangsung lama. Mrs Darcy sengaja membawa Anne, “pacar” William dari New York, ke pesta pernikahan. Georgina, adik William, tak sengaja memberitahu Lalita bahwa kakaknyalah yang menjadi otak pemisahan Baltaj dan Jaya. William memang beranggapan Mrs Bakshi sengaja menjodohkan Jaya dengan Baltaj agar bisa lepas dari kemiskinan. Wiil ga ngeh kalu Baltaj dan Jaya benar-benar saling jatuh cinta dan saling menderita ketika keduanya terpisah. Tapi Lalita sudah terlanjur hancur sehingga menolak William yang hendak ingin meminangnya.

Lalita yang patah hati langsung pulang ke London bersama keluargganya. Di London, Lalita semakin merana karena adik terkecilnya membuat masalah. Lakhi Bakshi kabur bersama Johnny Wickham. Kehadiran William yang menyusul Lalita ke London menjadikan dirinya sebagai pahlawan di keluarga Bakshi. William akhirnya menceritakan alasan mengapa dia sangat membenci Wickham. Ternyata Wickham yang sudah dianggap sebagi anak sendiri bagi ayah William malah menjadi penghancur keluarga Darcy. Wickham menghamili Gerogina agar bisa mendapatkan jatah warisan dari Mr Darcy. Karena upayanya gagal, Wickham hidup ga jelas di rumah perahunya.

William dan Lalita akhirnya berhasil menemukan Johnny dan Lakhi di London Eye. Itu tuh, Kincir Raksasa-nya London yang keren banget dan selalu muncul di setiap film India :P… William pun menghajar Johnny habis-habisan di bioskop yang muterin film Bollywood. Johnny yang ketahuan bermuka dua dan playboy sejati karena keceplosan mengaku masih mengharapkan Lalita dapet tamparan asoy dari Lalita dan Lakhi di hadapan seantero penonton. Lagian, berantem di dalem studio bioskop siy!

Ending ketebak. Lalita dan keluarganya berterimakasih banget ke William Darcy. Baltaj akhirnya kembali ke Jaya. Mereka bertunangan di India. Dalam pesta pertunangan, William menceburkan diri dalam budaya India dengan menjadi penabuh gendang pada pesta pertunangan Jaya dan Baltaj. Film ditutup dengan pesta pernikahan Baltaj – Jaya dan William – Lalita.


Bride and Prejudice yang Kurang Pride and Prejudice
Yups, menurut gw kurang greget. Penokohan yang paling kerasa kurang pas pada sosok William Darcy. Mungkin karena salah orang kali ya. Tokoh Darcy di Bride anf Prejudice itu diperanin Martin Henderson. Si biker tampan dari film Torque. Entahlah, di Bride and Prejudice dia tidak terlihat setangguh ketika menjadi pembalap. Sisi cute Henderson lebih mendominasi. Kurang matang dan kurang angkuh dibandingin Marc Darcy di Pride and Prejudice versi BBC yang diperankan oleh Colin Firth. Walau memang sih lebih cakep kalo dibandingin Pride and Prejudice versi Hollywood.

Tapi bagaimanapun juga, Marc Darcy itu sosok yang pride sekali, alias angkuh! Henderson pun kelihatan kurang greget ketika adegan berantem sama Wickham. Penokohan Mr Darcy ga dapet di pikiran gw ketimbang tokoh lain seperti Wickham yang playboy bajingan, Lalita yang gampang punya prejudice tentang seseorang, Kholi Saab yang terlihat nerd dengan narsisme dirinya akan sebuah amerika, hingga Mr dan Mrs Bakshi.

Lalita diperanin oleh Aisywara Rai. Di Pride and Prejudice, tokoh Lalita bernama Elisabeth Bennet sedangkan Jaya Bakshi sama dengan Jane Bennet. Karakter Rai hampir sama seperti Keira Knightley di Pride and Prejudice versi Hollywood. Mereka sama-sama pemberani dan galak! Tapi ga bisa menyamai Lizzy Bennet versi BBC yang mempunyai sisi pemberontak, nekat, berani, kuat, pintar, dan lembut sekaligus. Tapi secara keseluruhan, peran Rai mantaps juga karena India memang memiliki kultur yang berbeda dibandingin Inggris.

Intinya? Bride and Prejudice boleh jugalah! Tapi, Mark Darcy-nya Colin Firth tetap tiada duanya...

Saturday, December 20, 2008

Remember, Remember The Fifth of November

[kutip dari blognya ade gw.. yang akhirnya tertarik juga sm V for Vendetta]

Remember, Remember…

Immortalized in this nursery rhyme, the Gunpowder Plot is introduced early into the young minds of children throughout the United Kingdom.

Remember, remember the fifth of November,
Gunpowder treason and plot.
We see no reason
Why gunpowder treason
Should ever be forgot!

Guy Fawkes, guy, t’was his intent
To blow up king and parliament.
Three score barrels were laid below
To prove old England’s overthrow.

By god’s mercy he was catch’d
With a darkened lantern and burning match.
So, holler boys, holler boys, Let the bells ring.
Holler boys, holler boys, God save the king.

And what shall we do with him?
Burn him!

Tuesday, April 8, 2008

BOBBY...


Lupain fakta kalo kejadian ini terjadi di negara bagian favorit gw, California. [Ato perbincangan di 21 BSM dan sms beerapa bulan lalu... huiks] Jangan perhatiin nama-nama besar yang maen di film ini karena mereka emang rada2 ga penting tp cukup mhiasi jalannya. Liatin aja qoute yg ada di cover film dan setelah itu tonton Bobby dalam keadaan ga ngantuk. Lo bakal kesentuh banget ama Robert F Kennedy.

Inspiring me to fight against racism and violence. Instead of writing d whole part of film, i'd like to share Bobby' speech in d end of film. The part after he got shot by silly boy in Ambassador Hotel LA' kitchen.

Setiap kalimat di pidatonya Bobby terangkai dengan baik. Ga usah dengerin suara dan intonasi orasinya yg sebernernya ga kalah oke aja, gw betah ngebacanya. Apalagi kalo diliatin bersamaan dengan detik-detik penembakan itu, beeehhh... ceurik-ceurik dah maneh! Pantesan Ruben Frederick Knehans bangga bgt punya inisial yg sama dan menjadikan logo RFK sebagai icon dirinya. Hahaha, ben ben... kamu dimana ya?

Check this out!!!


It's not a day for politics
i have saved this one opportunity
My only event of today to speak briefly to you about the mindless menace of the violence in America, which again stains our land an
d everyone of our lives.

It's not the concern of any one race. The victim f the violence are black and white, rich and poor, young and old, famous and unknown. They are, mos important of all, human beings whom other human beings loved a
nd needed.

No one, no matter where he lives or what he does, can e certain who next will suffer from some senseless act of bloodshed. And yet, it goes on and on in this country of ours.

Why? What has violence ever accomplished? What has it ever created?

Whenever any America's life is taken by another American unnecessarily..
Whether it is done in the name of la, or in defiance of the la
w by one man or gang, in cod blood or in in a passion, in an attack or violence, or in response to violence...
Whenever we tear at the fabric of our lives...
Which another man has painfully and clumsily woven for himself and his children...
Whenever we do this...
The whole nation is degraded!!

Yet we seemingly tolerate a rising level of violence that ignores our common humanity and our
claims to civilization alike.
Too often, we honor swagger and bluster and the wielders of force.
Too often we excuse those who are willing build their own lives on the
shattered dreams of other human beings.

But this much is clear : violence breeds violence, repression breeds retaliation, a nd only a cleansing of our whole society can remove this sickness from our souls

From when you teach a man to hate and to fear his brother,
when you teach that he is a lesser man because of his color or his beliefs, or the policies that he pursues,
when you teach that those who differ from you threaten your freedom or your job or home your family,
Then yo
u also learn to confront others not as fellow citizens but as enemies
to be met not with cooperation but with conquest to be subjugated and to be mastered




We learn, at last, to look at our brother as aliens
Alien men with whom we share a city, but not a community
man bound to us in common dwelling, but not in common effort

We learn to share only a common fear
Only a common desire to retreat from each other
only a common impulse to meet disagreement with force





Our lives in this planet are too short
The work to be done is too great to let this spirit flourish any longer in this land of ours
Of course, we cannot banish it with a program nor with a resolution but we can perhaps remember,
if only for a time, that those who live with us are our brother, that they share with us the same short moment of life, that they s
eek, as do we, nothing but the chance to live out their lives
in purpose and in happiness,
wining what satisfaction and fulfillment that the can







Surely, this bond of common fate
Surely, this bond of common goals
can begin to teach us something
Surely, we can learn at the least,
to look around at those of us, of our fellow men,
and surely, we can begin to work a little harder
to bind up he woun
ds among us
and to become, in our hearts,
brothers and the countrymen once again..

***






Wednesday, March 26, 2008

Quo Vadis


Quo vadis itu film klasik. Ceritanya tentang zaman Nero. Di pelem ini, gw bisa lihat sisi kezam sekaligus kebodohan si Nero. Apalagi liatin idenya dia mo bikin Nero Polis dengan cara ngebakar Kota Roma. Ide terbodoh yang pernah diambil pemimpin kelas dunia. Si Nero itu tnyata dikelilingin para pakar dan (sok) pakar yang hobi menjilat. Jadinya dia ga tau betapa jelek suara dan syair lagu yg dia bikin. Memekakkan telinga bener!

Dia juga punya banyak ide bodoh. Sebodoh ketidakstabilan emosinya dia. Gelo banget deh tuh orang. Puncak kebodohannya dia itu waktu dia ngebakar Roma dan menolak bertanggung jawab waktu orang2 Roma ngamuk. Berkat ide si permaisuri yg ga kalah kacaunya, Nero pun melemparkan tanggung jawabnya ke orang-orang Kristen.

Nero & the gank punya banyak cara ngebunuh orang2 Kristen. Ceritanya caper gitu dan manfaatin kemarahan orang Roma. Ada yg dibiarin mati dimakan singa2 di Colloseum. Ada yang dijadiin obor hidup Roma alias dibakar tengah malem. Lyga ama penjaganya disuruh ngelawan bison (iya bukannya?) di hadapan Marcus Vinitius.

Endingnya sih cukup nice. Walau greget pas liat cara matinya Nero yang pengecut banget! Najiz tralalala!!! Setali tiga hepeng ama cara matinya Hilter dan orang2 sejenisnya. Bunuh diri. Menurut mereka cara itu cara yang terhormat buat para pemimpin.

Roma akhirnya diambil alih ama Jendral Galba. Teuing saha. Blum nyari di Encarta ato Mbah Google sih. Pokoknya recomended lah. CAra memandang Paskah dari sudut yang lain...

Saturday, May 26, 2007

Blood Diamond for Me

For d first time in my life, i fall in love to Dicaprio’s act. Everybody should be watching Blood Diamond. It’s telling many things on me. Such a great film ever and how sexy Dicaprio there!

The film tells the story about the cruelty of power, money and capitalism. I’ve learn several things from different person.

The first one is Maddy Bowen. In this film, Maddy is a journalist from US magazine name Vital Affairs in 1990 decade. Sierra Leone was a terrible African country because it has a diamond in its land. But, since the conflict in that country never end, ‘the hero’ (US and England) make the world buy the diamond from Sierra.

The capitalism doesn’t let the ‘superman’ stop. They do many things to import the diamond from the neighbor country. One of them is Liberia. So, the diamond can imported legally and increase the superman’s richness.

There’s Van de Kaap, the owner of a diamond Company. Kaap sell the diamond to the entire of world. He supports many politicians who support his business. That’s the reason he can stand and being a great man in London.

There’s was Maddy, an idealism journalist who wants to stop the war. She shall do many things to make it happen. For the first time, she wrote the real condition in Africa. The murder, dead body, the suffered citizen, and many things that NN (I forgot his name) saw when he won The Pulitzer’s price.

In the beginning, it worked. She success to make her reader cry and donate the money to feed the victim and stop the war. But, her news can’t stop the adventure of businessman like Kaap. In fact, the war doesn’t stop. The victim was increasing.

One day, she finds the key of her news. She must get a proof that people like Kaap something terrible. The proof that show he imported a blood diamond. So the people stop buying the diamond from Africa. Finally, the film shows that it’s the solution to several parts’ problem. Maddy can’t stop the war but she sent Kaap to the Law. But, I don’t know if Kaap really imprisoned or not. You know, money can buy the law sometimes.

There was a man named Danny Archer. He is called himself as a soldier of fortune. Quit from military and sell the diamond illegally until the time he met Maddy. The film doesn’t end with romance situation. But, his emotional conversation with Maddy tells something. He must be love Maddy although he cans runaway from his homeland. Archer dead after hold some soil of African land.

-The End-

Sunday, May 13, 2007

Black Side


Terkadang, sisi hitam membuat seseorang terlihat seksi. Lihat aja Tobey yang ngga banget itu. Di Spidey 3, Tobey sempet nunjukkin kehitaman dalam dirinya. Meski cuma bentar, he makes me amazed. Seksi bener. Ngalahin pesona Harry yang nyebelinnya dibikin tewas. Grghhhhhh!!!! (Dasar sutradara, bikin skenario seenak jidat!)

Ga tau knapa, buat gw Draco Malvoy lebih memesona ketimbang Harry Potter. Sama kaya d sweet Harry Osborn. Ato Tommy pas lg jadi musuhnya Power Ranger zaman dulu. (abang gw dan orang lain di sekliling gw mungkin beberapa di antaranya). Hmmhm.... Ambisi mereka itu lho.

Phupffhh...tp gw musti hati-hati. Kata orang, ambisi itu deket bgt dgn permainan egoisme. I love that coz it make me reach my dreams. Tp sayangnya gara-gara itu, semua orang ninggalin gw.

Sekarang gw cuma punya Sahabat dari Galilea aja. He's a perfect pal, protector, and everything for me. Hanya satu yang menyebalkan, i cant embrasse Him. Walau gw tau dia selalu ada . Walau tanpa gw sadari, dia ngendong gw. Udah ah, gw ga pgn nyalin Footprints Poet.

Btw, foto ini diambil pas gw ama Jijah lagi centil2nya, Sabtu (12/5). Hari itu, kita liputan film Love is Cinta yang ngga bgt di Ciwalk. Liputan yang garing! Dateng2 dicuekin, tanpa rilis ato goodeybag, cuma dpt dua tiket (Poor Mr. Faiq!), en kelaperan pulan. Ya sudah, lah kita meminta Mas Eko dan Mas Faiq beraksi. Tapi, we're not the kind of Spidey Girl ya!