Showing posts with label kids. Show all posts
Showing posts with label kids. Show all posts

Friday, July 14, 2017

Eliza Oyy...

Pung, Eliza bisa gak dikirim lewat paket ekspress biar setahun di Jogja, setahun di Bandung,
dan setahun berikutnya baru dikembaliin ke Jakarta. :D


Namanya Eliza Evangelista Panjaitan. Keponakan pertama kami. Anak menggemaskan yang sepertinya terbuat dari campuran susu formula dengan DHA super tinggi, microphone, cabe rawit, dan marshmellow. Alhasil Eliza tumbuh menjadi anak kicik yang aktif, cerewet, galak, namun imut tiada tara. Hahahaha...



Mama Rina dan Bapak Andi, adik saya, selalu berbagi kisah lucu dan seru tentang Eliza lewat medsosnya. Hiburan banget lihatnya. Andi waktu kecil itu juga menggemaskan. Tapi Eliza ini pangkat tiganya. Hera, adik Bungsu saya, punya cara ekstrim untuk bisa dekat sama Eliza. Buat dia wajib sekali hukumnya untuk video call sama Eliza setiap hari. Wajar banget akhirnya bonding Eliza sama Bou Era jadi kuat sekali walau yang satu tinggal di ujung Jakarta dan satu lagi di Bandung. 


Inspeksi Permen Yuppi 
Saya lebih senang dipanggil namboru. Namboru dalam Bahasa batak berarti kakak atau adik perempuan anak laki-laki dalam keluarga. Sementara itu Ruben, suami saya, dipanggil amangboru. Akhir Juni 2017 lalu kami menghabiskan libur lebaran di Depok. Kumpul-kumpul di Rumah Ompung Eliza. Untuk pertama kali Eliza nyebut kata "boyu". Senangnyaaa..... 



Serius saya senang sekali, pake banget! Soalnya saya dan Ruben tinggal di Jogja. Ketemu sama Eliza baru dua kali. Sempat khawatir Eliza merasa asing sama saya sekalipun di sisi lain gen keluarga Panjaitan itu selalu jadi magnet buat anak-anak. 



"Singa Asam Manis"


Eing ing eng... ternyata memang tidak terlalu sulit "menyabotase" Eliza. Dengan catatan, saya dan ELiza lagi sama-sama waras ya. Hehehe. Sisi storyteller dalam diri pun masih ada. Sebagian besar dari kebersamaan kami habiskan dengan berdongeng dan bernyanyi. Cerianya Eliza apalagi waktu diajak berhayal tentang ikan dan singa. Suaranya kenceeeng!  Apalagi kalo lagi nyanyi lagu macam "Tik Tik Bunyi Hujan","Ondel-Ondel", "Little Finger", atau "Johny Boy" (Bou Era ,ini bukan ya judulnya?).




Eliza juga seru juga waktu diajak belajar main (baca : bersosialisasi) sama-sama anak-anak kecil lainnya di Rumah Tulang Uli pas persiapan acaranya Uli. Semacam pengalihan gitu deh biar quality time Eliza dan Namboru Evi minim gadget. Mending main air dan tanah aja. Kotor sih tapi sensorinya terpakai. Tapi pas bagian lompat kodok, beuhh...nyerah! Kebayang deh anak ini pasti senang sekali kalau nanti ikut Sekolah Minggu atau sekolah beneran. Pintar dan baik hati selalu ya, inang.


Sayangnya, Namboru yang satu ini energinya terbatas banget. Gampang sekali kehabisan nafas. Sebelas dua belas sama Ompung Doli. Kalau udah kaya gini, Eliza dan Namboru jadi sama-sama gak waras. Hehehe... Beberapa hari selanjutnya kami terselamatkan dengan Bou Era. Kata Rina, Bou Era kan mama infal-nya Eliza. Hahahaha... Sayang deh sama kalian semua! ***




Friday, October 21, 2016

Memahami Anak Berkebutuhan Khusus

Kemarin malam saya dapat info tentang acara ini dari Kak Debora Ndraha. Rekan yang dulu sama-sama melayani sebagai kakak sekolah minggu di GKI Gejayan. Topiknya menarik hatiku. Ini dia iklannya :

Sumber Gambar : Facebook Kak Debora Ndraha


Saya pun mulai melancarkan aksi stalking untuk mengetahui sedikit latar belakang penyelenggara acara bagus ini. HOPE Special Needs Center bekerja sama dengan Sekolah Theologi Reformed Injili (STRI) Yogyakarta. Berkunjunglah ke sini untuk cek info lebih lanjut tentang HOPE Special Needs Center. Isinya bagus! 

Lalu saya teringat pada hari yang sama saya diingatkan oleh Facebook tentang salah satu pengalaman indah mendampingi salah satu murid berkebutuhan khusus di sekolah tempat saya bekerja dulu. Sebut saja namanya Thomas karena dulu dia sangat menggemari Thomas The Tank Engine. Pertemuan pertama saya dengannya sangat berkesan. Saya mencatatkannya di notes ini. 

Kepada semua para pendamping anak berkebutuhan khusus, marilah belajar mengenal dan memahami anak-anak unik ini. Saya percaya setiap anak adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Tidak peduli betapa anak tersebut jauh dari kata cantik, ganteng, imut, dan menggemaskan. Mereka anugerah yang sama sekali tidak pantas disebut freak. 

Tentang ucapan freak, saya sempat menegur adik remaja yang pernah saya layani di gereja. Di luar dugaan, adik cantikku ini enggan mengikuti gerakan ketika kami bernyanyi "Making Melody". Katanya saat itu : "Kak, ga mau (gerak) ah. Kaya orang freak aja". Hohoho... Got ya! Saya punya kesempatan menjelaskan tentang anak berkebutuhan khusus. 

Konon, lagu "Making Melody" memang ditujukan bagi semua orang berkebutuhan khusus yang ingin memuji nama Tuhan melalui keterbatasan mereka berekspresi. Makanya gerakan dalam lagu "Making Melody" terasa aneh bagi manusia bertubuh sempurna. Kataku saat itu, sungguh kejam rasanya memanggil teman-teman berkebutuhan khusus sebagai seorang freak. Setiap gerakan dalam lagu "Making Melody" membantu kita mengerti rasanya berada dalam posisi mereka. Kalau boleh memilih, mereka juga tidak mau berada dalam posisi spesial itu lho.  

Saya yakin, adik cantikku bukan satu-satunya orang yang memiliki sikap yang sama tentang anak berkebutuhan khusus. Bersyukur sekali adik cantikku sepertinya mulai merubah cara berpikirnya. Semoga tetap seterusnya ya, dek.

Oke kita kembali ke seminar yang tadi saya sebutkan di awal. Semoga info ini berguna bagi setiap para pendamping anak berkebutuhan khusus di Yogyakarta. Entah itu orang tua, pengajar, pengasuh, atau pendamping lainnya. Ayo jangan menyerah! Harapan selalu ada selama kita mau mencari. Bergerak ramai-ramai dalam komunitas lebih jitu ketimbang bergerak sendirian. 

   




Thursday, July 17, 2014

I.S.E.N.G

EPOY & MATTHEW - Suatu hari di Kaliurang. Di saat peserta Retreat olahraga pagi, gw sibuk bernarsis ria sama Matthew-nya Kak Ully. Hayo Memet eh Matthew smileee! Kita olahraga muka pake lappie aja ya. Hahahhaa... 

Monday, April 21, 2014

Paskah 2014 : Kehangatan yang Basah dan Basah yang Menghangatkan

Senin, 21 April 2014. Satu malam setelah perayaan Bulan Paskah 2014 benar-benar berakhir. Lega, rileks, plong, dan tidur panjang. Beneran gak nyangka Bulan Paskah tahun ini terasa luar biasa banget buat banget untuk gw dan Ruben. 

"It's not the perfect one but it's so fun and warmth. It happened because we're not taking a positition as the outsider of Pos Adisucipto."

Entah gimana awal mulanya, Ruben akhirnya bercokol sebagai partner kompak seorang ibu yang sering kami panggil Bu Mawar. Hehehe.. Mereka berdua didaulat sebagai Tim Acara Paskah 2014 GKI Pos Adisucipto, Yogyakarta. Komitmen yang sukses juga membuat Ruben kelabakan setengah mati dan tanpa sengaja gw pun tertular sekitar sepertiga dari rasa kelabakan itu. 

Rabu Abu. Kamis Putih. Jumat Agung. Terakhir, Kebaktian Padang yang menjadi puncak perayaan Paskah 2014 Pos Adisucipto.Sebuah ucapan "i do" untuk menjadi Pemimpin Liturgi pada ibadah hening Kamis Putih membuat gw yakin pada satu hal : multitasking is not a part of me! Not even a little! 

Why? Karena gw akhirnya tahu kalau kinerja gw berantakan ketika gw mengambil lebih dari 3 komitmen. Tiga edisi warta jemaat Pos Adisucipto yang gw gagas bersama Pak Hadyan Tanwikara dan Pak Benyamin Prasetya sukses selalu bertaburan dengan kesalahan! Belum ada satu edisi yang sempurna. Parah! Kerjaan mengajar gw pun jadi ga garing banget. Paling kacau ketika gw bener-bener ga punya waktu untuk nyiapin bahan untuk renungan di Minggu ke IV Paskah. Gw malah melangkah lunglai ke tempat Kak Myta hanya untuk berkata : "Ka... Aku capek..."

Kebersamaan dengan Komisi Pemuda udah entah kemana semangat gw itu. Selain sama Poti Waruwu, gw hanya berinteraksi dengan temen-temen Pemuda yang bertugas di Ibadah Kamis Putih aja. Gw kangen ketawa ngakak sambil cerita panjang lebar sama Ventri Hendika yang sekarang sudah resmi menjajakan kaki di industri musik ibu kota. Gw kangen becandaan gokil ala Duta dan Tya. Tapi... ya gitu deh. Gw makin sering ga kuat untuk dateng ke Persekutuan Pemuda. Cuapeee... 

Sampai Paskah Padang tadi berlangsung. Pak Djati mempercayakan mobilnya untuk kita pakai sebagai bantuan transportasi jemaat. Kepanikan tetap ada namun berangsur membaik. Hujan abu sempat ikutan Kebaktian Padang. Cape.. Cape.. Sesek.. Gw memaksakan diri untuk rebahan sebentar di tikar. Recharging my energy. Pada akhirnya semua berlangsung basah tapi hangat. Hangat tapi basah. Permainan basah-basahan ala pipa jadi-jadian si Yohanes Filbert berantakan tapi semua ga peduli. Yang penting mainn airr... 

Oiya tadi ada Jovan. Sengaja diajak biar ga bete di rumah. Ternyata, Jovan punya temen sekolah di Kelas Besar. Namanya Sandio. Anaknya Kak Dona Hutabarat yang rumahnya di Purwomartani. Ternyata, Jovan nyaman berinteraksi sama cowo-cowo Pra Remaja. Ternyata, para pria-pria kecilku senang menggila bareng Jovan. Panas terik ga jadi halangan untuk nyebur ke kolam renang Banyumili Godean. Ah.. berinteraksi bersama anak-anak masih bisa membuatku rileks, bahagia, dan merasa luar biasa. I love you guys! Terberkatilah kalian! Jangan pernah bosan untuk minta aku peluk, bercerita se-enggak penting apapun, membuatku kaget dengan kelitikan-kelitikan, berkreasi dengan art n craft, atau berdiskusi ala Sokrates-Plato ya. Selamat Paskah! 

PASKAH YANG BASAH DAN HANGAT - Usai mengikut Kebaktian Padang Paskah GKI Pos Adisucipto, kami menggila dengan air dan terik matahari ala Banyumili Pool & Resto Godean, Minggu (20/4)





Monday, February 6, 2012

Ayundiva Lituhayu Puteri



"Miss... Kapan sih Diva pulang?"

Diva is our bestfriend. (Hehehe... I treat all student in Kindergarten 1 as a bestfriend than a student). In our mind, she is the only a real-girl in the class. Xixixi... I have 4 more buddies in K1 beside Diva. Another 3 student are boy and the other is a warrior princess.

We met Diva on the beginning of June 2011. She was a very calm and super sensitive girl. Kind of a "putri solo" one! Diva gave a totally different air to the nursery class, the boyish class. :)

She was 3.5 year when I decided to put her on the upper class. Yes she is the youngest but Diva has an amazing brain. All I have to do is stabilizing her emotional side. Day by day, week by week, month by month, Diva was getting better and better. She is being a sunshine for us. This Vita Jelly lover is really good at stage performance, self confident, and also the cognitive war of K1. I love her, the girls like her, and the boys always talking and figthing to get the attention of this beautiful young lady.

January 2012, Diva's father finally finished his Master Degree in Gajah Mada University. Diva's family decided to go back to Jekardah. I feel so sad! The other parents do. I cried when I made the farewell card for Diva. A little farewell greeting party is worse! We're laughing to hide the tears. And at the end, I can't hold on! It's a sad momment on the beginning of 2012.

One month passed, the class still felt strange without Diva. No more fight to get Diva's attention. No more sharing jelly time. No more bandana time. But the student forbid me to get away Diva's stuffs from the K1 class. They force me to put Diva's eraser, sharpener, attendance card, etc on the corner. They said: "Ini punyanya Diva miss. Taro di sini aja. Jadi kalo Diva pulang bisa tetep kerjain worksheet di K1. Diva kapan ya miss pulangnya. Lama banget sih ke jakartanya.."

Wuaaaaaaaaaaa...... Yes my dear, I miss Diva too :(

Sunday, October 23, 2011

Special Needs Jilid Kedua?

Lupakan sejenak tentang polemik 'romusha', sekarang aku ingin berbicara tentang murid baruku. Dia murid unik! Beberapa jam bersama dia, aku sudah mengendus sepertinya dia akan jadi murid keduaku di kelas Nursery yang memiliki kebutuhan khusus.

Dia seorang anak laki-laki berusia tiga tahunan. Kedatangan dia dan sang mama langsung aku sendiri yang menyambut. Kebetulan petugas Front Office di sekolahku lagi ada urusan ke luar. Karena pasukan K1 tengah meal time dan aku lagi puasa, aku yang lagi numpang di FO mau tidak mau mengambil alih tugas promosi.

Mataku terus tertuju kepada anak itu selagi aku menjelaskan tentang sistem pengajaran di sekolah. Ada yang aneh dari anak itu. Entah apa.. Aku tidak terlalu terganggu dengan bau anak itu (walau ternyata baunya langsung membuat asistenku mual). Aku juga tidak terlalu mempermasalahkan pakaiannya yang kumal dan dekil (agak janggal juga sih melihatnya karena dia berasal dari keluarga chinese yang sudah menyekolahkan tiga anak di sekolah swasta ternama kemahalannya di Yogyakarta). Aku juga tidak terlalu terganggu melihat air liurnya yang terus menetes. Begitu juga ingus yang menempel lekat ke hidung sampai sebagian pipi dan mulutnya. Aku memang agak bertanya-tanya juga apa semua kotoran di badannya dibersihkan dengan rutin. Terlalu banyak kotoran di mata, mulut, hidung, kuku, dan beberapa tempat lain. Dia juga selalu menggigit kuku dan kerah bajunya. Baju yang dia kenakan jadi agak lumayan penuh air liur.

Temanku yang mengajar di kelas lain bertanya, apa dia memiliki kebutuhan khusus? Aku jawab, aku tidak tahu! Orangtuanya mengisyaratkan kalau anaknya normal. Dia hanya suka bergerak dengan tiba-tiba dan ekstrim. Contohnya mencengkramkan kukunya dengan kuat ke tangan orang lain, memukul, melempar, dan menggigit!

"Tapi tenang miss, dia cuma melakukan itu ketika dia sudah sangaat nyaman dan dekat dengan seseorang kok..", kata si mama.

Wataaawww! Weleh weleh... Kok baru bilang. Aku mengerti mengapa dia tiba-tiba suka memeluk aku dari belakang ketika sedang duduk lalu menggigit tangan atau bahuku. Atau tiba-tiba menibankan kuku-kukunya yang jauh dari kata simetris ke tanganku. Lumayan sakit juga sih. Yang bikin aku agak keheranan, dia melakukannya sambil tertawa namun matanya kosong.

Beberapa hari ini aku menggunakan pelukan untuk menghentikan aksinya dia. Sayang sekali dia belum bisa bicara dengan jelas. Usianya memang tiga tahun namun dia belum dapat mengucapkan kata dengan jelas dan lengkap. Dalam kondisi yang gelisah, biasanya dia akan merebahkan kepalanya di pundakku. Aku pun terkadang mengelus kepalanya agar dia lebih tenang. Dannn..... kepala anak itu memang janggal! Beberapa bagian permukaannya tidak rata. Agak berbukit-bukit di bagian atas. Jika diperhatikan, kepala dia mengecil di dagu namun semakin ke atas semakin membesar. Aku teringat dengan penderita hidrosepalus (hmm..gini ga cara nulisnya).

Baiklah! Kamu sudah datang ke sampingku. Ke tengah-tengah kami. Selamat datang sayang :) Apapun kondisimu, kita terus berjalan bersama ya. Kita teman!

Peluk hangat,
The Kingdom of Nursery

Friday, October 14, 2011

Matahari Harus Belajar Disiplin!

"Terlalu banyak kasih, anak bisa jadi kurang ajar. Terlalu banyak kedisiplinan, anak bisa jadi pemberontak."

-someone-

Anak itu pintar. Kepandaiannya di atas rata-rata untuk usia 3 tahun. Untuk kepiawaian mengenali huruf, angka, dan berbahasa, dia patut diacungkan jempol. Tak heran jika banyak orang yang berdecak kagum. Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa kepandaian itu didapatnya secara otodidak. Modal utamanya satu, sebuah I-pod entah keluaran tahun berapa. Kebetulan saya memang bukan pemerhati maha karya Steve Jobs.

Saya kagum? Ga banget! Gimana saya ga bilang 'gaaa banget!'. Anak pintar itu sepertinya tidak pernah sekalipun mendengar istilah etika. Apalagi yang namanya kedisiplinan. Dia adalah matahari. Sementara orang tuanya, opa, dan oma adalah planet-planet yang selalu mengitari matahari. Para planet itu tidak pernah sekalipun berani membangkang kepada matahari.

Duhai kalian para planet yang terhormat, sampai kapan kalian akan mempertahankan siklus seperti ini. Tugas kalian itu bukan merapihkan setiap kekacauan yang dibuat matahari. Matahari kalian harus belajar mendisiplinkan dirinya sendiri. Jika tidak, matahari akan mati karena terbakar panas egonya yang luar biasa itu. Hayolahh...

Ketika melihat anak itu, saya bisa memahami arti kalimat 'seorang anak bisa menjadi kurang ajar ketika terlalu banyak kasih'.

Pendapat ini sempat agak disanggah oleh Tulangku yang kebetulan berprofesi pendeta. Dia berkata, mengasihi itu tidak ada istilah terlalu banyak. Mengasihi itu harus 100%. Jadi aku agak perbaiki bahasaku deh.

'Kasih yang salah tempat, anak jadi kurang ajar!'

A Special Symphony from Special Student

This is the quote from Bu Rinjani, the headmaster of SLB Cahaya Mulia. She give this sentence to Jayden, the suddenly teacher music for the special needs student.
"This is not a place for experiment or the place for killing your time while you waiting for your next luck. You can life anytime you want.."
"It's not my life!"

Two days later Jayden came back to the school. He said these ones in front of the class:
"... I'm sorry kids for leaving you. Now I realize something. It's not "you need me" but "I need you all". You mean so many things to my life."

I like this movie! Ira Wibowo and Christian "Babyface" Bautista gave a 'sinetron' touch to the movie. But Ira Maya Sofa and the special needs student fixed them all. I think I will downloading their song as soon as posible.

♬Tak selamanya
Mendung itu kelabu
Nyatanya hari ini
Kulihat begitu ceria

Hutan dan rimba
Turut bernyanyi pula
Membuat hari ini berseri
Dunia penuh damai

Bintang berkelip
Dengan jenaka
Seakan tahu
Arti dan rasa

Oh kidung yang indah
Kau luputkan aku
Dari sebuah dosaku

Tak selamanya mendung itu kelabu
Nyatanya hari ini
Kudapat bernyanyi kepadanya♬

Wednesday, August 17, 2011

Pangeran Jose Emmanuel & Putri Felicia Angeline Wahyudi

Selamat datang! Maaf jika ucapan ini terlambat muncul kepada rombongan Pangeran Jose & Putri Felicia. Maklum aku, sang tuan rumah, beserta anggota kerajaan terdahulu panik setengah hidup ketika kalian datang. Padahal kami sudah mendapat informasi tentang kepindahan kalian ke negara bagian Nursery. Hehehehe...

Maaf! Maaf jika banyak kesan pertama yang kurang berkenan di jiwa kalian. Aku tahu kok. Aku bisa melihatnya ketika senyum Pangeran Jose tertarik ke muka bumi. Sampai-sampai yang muncul justru muka karet ketika aku berhasil memisahkanmu dari The Nanny. Alhasil, kau menjerit sejadi-jadinya sampai aku harus mambawa bekal makanan ikan untuk bisa meluruhkan hatimu.

Dan kamu, Putri Felicia, aku tahu kegembiraanmu nyaris luntur seperti pakaian Pangeran Owen Everald Santoso yang terkena Bayklin, senjata pamungkas sang mami ketika melawan noda bandel. Berulangkali kamu berpegangan erat kepada ibunda tercinta tepat setelah kakimu menyentuh tanah Sabirin. Bahkan kau enggan memakai seragam. Itu tandanya kamu sedang bad mood. Sedangkan sang mama justru berkomentar begini : "ah dia mah lagi lebay!". Hihihihi..

Aurillo Hosea Devano Haryanto.. :) Sudahlah. Aku malas membahas perseteruan awal kita gara-gara tragedi kursi yang kau obrak-abrik itu. Yang penting sekarang kita berteman yaa..

Kepada pujaan hatiku Efron Aleksandro Suranta Lebe... Tunggu ya. Sebentar lagi. Targetku sebelum kau meninggalkanku untuk berkeliling Indonesia lagi, kita harus bisa bercengkrama seperti biasa. Ya Efron sayang, aku juga kangen. Tak sabar rasanya mengenalkanmu dengan kata baru, nada baru, lagu baru, dan kebiasaan baru. Sekarang kau boleh marah tapi jangan galak-galak. Habis kulitku kamu cubit-cubit. Nanti akan kugunting kukumu sambil kita berbicara tentang Mr. Sun. Kalau bisa kita akan bercanda ria lagi bersama Aras Azzura Badaruzaman.

Last but not the least, selamat menggila di Nursery duhai Aurellia Bernice, Bryan Vernon, Stephany Fidelia, Travis Mawla Anugrah, Atha Mahya Siregar, Joycelin, dan ... Sengaja aku isi titik-titik karena masih ada lembaran unwritten on the book of Nursery 2011-2012.

Kita teman!

Luv you all
¤Ms. Evi¤

Sudah Waktunya Sekolah?

"Saya sudah duga, ini akibatnya setelah saya terlambat masukin A ke sekolah. Umur segini ga bisa apa-apa..."

Jika ada yang bertanya kapan sih waktu yang tepat untuk berhenti belajar, saya akan langsung dengan cepat menjawab : "Sampai nafas berakhir!". Nah bagaimana kalau sebaliknya?

Setiap orang punya jawaban beragam atas pertanyaan di atas. Pada awal tahun 1990-an mungkin jawabannya adalah TK nol kecil. Kelas tersebut menampung siswa-siswa termuda rakyat Indonesia. Masa kebebasan bermain anak mulai "terbelenggu" ketika dia berusia 4 tahun. Saat itu masyarakat seakan wajib memasukan anak ke taman kanak-kanak. Mereka yang tidak masuk TK kerap dianggap anak nakal, atau (yang agak naas tapi realistis) anak miskin. Maklum, biaya masuk sekolah bermain lumayan tinggi.

Tahun demi tahun berganti. Entah apa yang mengawali, sekedar gaya hidup atau memang tuntutan jaman, muncullah istilah kelompok bermain. Bahasa kerennya "playgroup". Dulu saya menganggap play group itu nama lain tempat penitipan anak. Tempat para orang tua pekerja menitipkan anaknya biar tidak menjadi liar. Liar dalam arti jadi "anak kampung" atau "anak pembantu".

Hehehe... Dua istilah ini lumayan sering terlontar di lingkungan sekitar saya. Anak kampung adalah sebutan bagi anak yang gemar bermain di luar rumah. Mereka cenderung kurang bisa berperilaku sopan karena alamlah yang menjadi guru mereka. Siapa kuat, dia hebat. Siapa lemah, dia lewattt... Sedangkan "anak pembantu" sering digunakan bagi anak yang menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan pengasuh. Alhasil si anak lebih menyerupai pengasuh ketimbang orang tua sendiri.

Terbiasa berada di daerah (sok) metropolis, saya menganggap pendidikan anak usia dini sebagai omong kosong. Pendidikan macam itu hanya seperti suap agar anak tidak "ngambek" karena orangtuanya lebih sering mencari duit dibandingkan bermain bersama buah hati. Untuk apa sih anak dimasukin ke sekolah di usia yang masih muda banget? Apa itu bukan upaya pembunuhan masa bermain anak?

Sampai akhirnya saya benar-benar berkenalan dengan pendidikan anak usia dini. Kita sebut saja PAUD, biar enak. Sampai akhirnya saya diperkenalkan dengab istilah golden age. Nantilah saya nulis khusus tentang usia keemasan itu. Intinya, golden age merupakan saat dimana anak menyerap segala sesuatu seperti spons. Dan katanya (iya katanya, blum nemu referensi pasti sih :p ), apapun yang dia serap-lihat-alami akan tertanam kuat sampai sang anak dewasa.

Ini bukan tulisan promosi sekolah tetapi upaya ajakan untuk mengajak anak belajar sedini mungkin. Bukan juga upaya mencekoki anak dari usia dini yaaa... Semua ada batasannya. Tidak semua anak mampu memiliki multiple intelegensi yang sempurna. Pasti ada yang menonjol dan ada yang kurang. Tinggal peka aja menganalisis keadaan anak tercinta.

Ingat, kesempurnaan cuman milik Sang Pencipta. Serem juga lagi punya anak yang sempurna.. Saya mau memakai ucapan seorang ibu bersahaja yang baru saja mendaftarkan anaknya di kelas saya.

"Saya berharap anak saya tidak berada di atas rata-rata anak normal. Untuk anak saya dibilang jenius tapi dikucilkan. Saya yang lebih menderita. Tolong berikan pendidikan yang pas ya. Tidak kurang. Tidak lebih. Saya yakin, sekolah lebih tahu caranya. Saya, bapaknya, neneknya, dan oranglain terkadang cuma sok tau aja.."

Monday, June 20, 2011

Cerita tentang Anak Jogja



[tulisan tanggal May 23, 2011]
Hal kesukaan seorang anak akan berpengaruh besar terhadap cara berpikirnya. Begitulah satu kesimpulan baru yang aku dapatkan dari pengamatan selama Januari sampai Mei 2011. Pengamatan ini aku lakukan terhadap beberapa makhluk mungil di suatu tempat di Yogyakarta. Cekidot…
Anak Tipe A
( Penggila Otomotif)
Me:
Okay student, today we will learn about beginning sound.
B is the beginning sound of “bag”.
Now, I have the picture of house. This is the word of “house”
So what is the beginning sound of “house”?
Student :
“h”.. Honda.
Me:
The beginning sound of “sun”?
Student :
“s”… Suzuki
Me :
The beginning sound of “doctor”?
Student :
“d”… Daihatsu
Me:
Hmmm it’s okelah… Yang penting dia ngerti. Hehehe…
Anak Tipe B
(Penggemar lagu “Back to School”)
Ketika ditanya lagu apa yang akan dinyanyikan ketika akan berbaris, anak tipe B langsung bernyanyi :
“Back to School... Back to school… back to school!”
Ketika dikenalkan kata baru, bed, yang artinya tempat tidur, anak tipe B langsung bernyanyi :
“Bed to school… Bed to school… Bad to school!”
Ketika aku bercerita tentang my new bike, anak tipe B langsung bernyanyi:
“Bike to school… bike to school… bike to school”
Ketika belajar tentang bag, CVC word vowel “a”, anak tipe B langsung bernyanyi:
“Bag to school… bag to school… bag to school!”
Ketika guru menjelaskan tentang perbuatan bad, anak tipe B langsung bernyanyi:
“bad to school… bad to school… bad to shool!”
Anak Tipe C
(Seorang drama queen yang suka banget sama Role Play)
Kebetulan si anak tipe C ini musuhan banget sama Matematika dan Bahasa Indonesia. Dia punya strategi setiap mau mulai dua pelajaran itu.
Me : Good morning student!
Student : Good morning Ms Evi
Me : How are you today?
Student: Wonderful, great, yes, yes, yes…. Yes!
Me : Are you happy today?
Student: (dengan nada antusias dan pronouciation yang nyaris sempurna) yes, I am happy!!
Me : Ok, now we will learn about skipping number by 2’s
Student: Aduh Ms.. Sebentar, sebentar… Kok kepala aku tiba-tiba pusing miss. Kayanya aku sakit deh miss.
Me : Hmmm are you really sick?
Student: Iya e miss. Ini kepalaku goyang-goyang gini.
Me : Ow ow… someone’s sick. Let us bring her to the hospital beside the school. Come on, call the doctor!
Student: Ga perlu miss. Ga usah. Ini kayanya aku Cuma perlu duduk-duduk aja. Tp ga usah liat numbers ya ms. Aku main computer aja pasti sembuh.
Me : ok… ok... You can finish your math worksheet with the computer. Ms. Evi already prepare the soft copy. Xixixixixi….
Student: (manyun dengan bibir keriting)
Anak Tipe D
(pecinta lagu Jingle Bell)
Kebetulan, anak tipe D ini seorang anak autis dengan spesifikasi hyperactive. Dia suka sekali bermain tali. Setidaknya memegang sesuatu yang ada talinya. Tidak peduli dekil atau bersih, smell good atau smell bad, anak tipe D senang sekali memelintir tali sepatu. Terutama kalau dia lagi malas ikut kegiatan di sekolah.
Me : No! Ms. Evi said no! No shoe at greeting time.
Student: (melepaskan sepatu yang dia pegang)
Greeting time berlanjut tetapi ketika aku lengah si anak tipe D mencari target baru di rak sepatu yang lain. Sepatu tali yang baru ketemu dan langsung deh dipelintir-pelintir lagi. Aku langsung ambil tali prakarya.
Me : ok you can play with rope. But only with this rope
Student: (tersenyum dan melepaskan sepatu yang dia pegang)
Anak tipe D mengikat-ikat tali ke berbagai tempat yang dia suka. Ketawa-ketawa sampai bosan lalu diam-diam mengincar sepatu tali yang lain. Ketika tahu dilihatin sama aku, dia pun kabur dam terjadilah adegan kejar-kejaran ala penjahat dan polisi di film India. Begitu ketangkep, aku langsung menginterogasi dia di dalam pelukanku.
Me : Hey hey.. what happened with you? Kok hari ini kamu nakal sekali? Kamu makan permen gula ya? Kenapa kamu jadi ga bisa diem lagi?
Student: wui wui wui… wui wui wui.. wui wui wui wui wui… (ceritanya bersenandung lagu Jingle Bells)
Me : Hey.. listen to me. Ayo kita cerita-cerita lagi ya. Kamu kenapa? Kamu lagi marah ya?
Student: (diem)
Me : Kok ga mau cerita? Kamu lagi sedih ya?
Student: (buang muka)
Me : Ya udah kalo ga mau cerita. Let’s get inside the class.
Student: (menahan badannya biar aku ga bisa berdiri)
Me : Ga mau masuk? Ya udah kita cerita-cerita di sini ya. Km lagi kesel sama siapa?
Student: (diem)
Me : Ah udah ah, Ms. Evi mau cerita-cerita sama temen yang lain.
(berbicara ke anak lain) Hai hai.. you look so beautiful with your bandana. Do you…
Student: wui wui wui… wui wui wui.. wui wui wui wui wui… (ceritanya bersenandung lagu Jingle Bells)
Me : Do you have the Barbie bandana too?
Student: wui wui wui… wui wui wui.. wui wui wui wui wui… (ceritanya bersenandung lagu Jingle Bells biar suara temennya ga kedengeran dan dia jadi males ngomong)
Me : Dasar usil….!
Anak Tipe E
(pecinta kultur local alias jawaaaa buanget!)
Lahir di Jogja, besar di Jogja, dan berinteraksi di lingkungan Jogja membuat anak tipe E terkesan sebagai anak Jawa sejati. Berikut ini cuplikan suasana belajar E di sekolah.
  1. Cek Absen
Me : Good morning student!
All : Good mornig Ms. Evi.
Me : How are you today?
All : Wonderful, great, great, great, yes!
Me : Ok now I will check your attendance. If I call your name, you can say “yes miss” or “present miss”. For example if I call “E***”, you can answer with “yes miss”. C’mon repeat after me, “yes miss”.
All : Yes missss
Me : Good job! Oke miss evi will start from E****. (Sambil siap-siap dengan bolpen dan buku absen anak) E**** Mawar Melati?
E : Ndalem miss.
Me : Gubrakksss ! Haduuuhhh kok jawabnya gitu sih?
E : Lho kata Mbah Utie kalo dipanggil, aku kan harus jawabnya “Ndalem…”
Me : Arghhhhhh….. (Rasanya seperti ingin membenturkan kepala ke tembok)
  1. Sesi Knowledge Presentation tentang Kendaraan
Me : Good morning student! ^_^
All : Good morning Ms. Evi.
Me : Look, today Ms. Evi brings three pictures. They are the picture of vehicle. Do you know what picture are they?
E : Aku tahu Miss. Itu kan mobil, pesawat terbang, sama sepeda.
Me : Good job! But, do you the English word of these picture?
E : (Geleng-geleng kepala)
Me : This is car.
E : Oh ini car toh namanya.
Me : And this is aeroplane.
E : Ohh eroplen..
Me : And the last one is bicycle.
E : Wuakakakakkakak…..
Me : Kok ketawa?
E : Wuakakakak ternyata orang bule pinter ya miss. Mereka tahu kalo sepeda itu dijalanin pake sikil (dalam Bahasa Jawa, sikil artinya kaki). Makanya sepeda itu Bahasa Inggrisnya Baysikil.
Me : Grrrrrrrrrr…….