Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Friday, December 2, 2016

25 Hari Bersyukur : Hari ke 1

Pengantar :
Sebutkan 25 hal yang saat ini kamu syukuri? Pertanyaan sederhana dari Bu Ratna Indah Widhiastuty di Persekutuan Karyawan GKI Gejayan, Kamis (1/12). Selesai! Saya kaget ketika teman-teman lain berhasil menuliskan lebih dari 5 poin dalam kurun waktu sekitar 2.5 menit. Bahkan Pak Paulus Lie & sepetinya Kak Irmanda Y. Saroinsong mencapai 15 poin. Sementara saya hanya 4 poin. Itu pun sebenarnya hal ke 4 belum selesai kata-katanya jadi bisa dibilang skor saya 3.5 poin.

Oh tidak! Saya terkejut betapa ternyata saya terlalu sibuk dengan pikiran saya sendiri sampai lupa mensyukuri hal-hal baik di sekeliling saya. Lalu sepanjang hari itu saya merenung, parah sekali kamu, Epoy! Oke saya menantang diri saya sendiri untuk setiap hari menuliskan 25 hal yang saya syukuri dalam hidup. Menulis dimulai! *sambil kibar bendera start*

Eh tapi nyanyi dulu lah kita:
"B'ri syukur, b'ri syukur, b'rilah syukur selalu
Susah ataupun senang b'ri sykur
Panjatkan doamu, setulus hatimu
KasihNya kini jadi milikmu"

Hari ke 1 : Bersyukur untuk Teman Hidupku

Terimakasih Tuhan untuk Ruben Frederik Knehans, teman hidupku. Oiya, kemarin dia ulang tahun ke 33. Selamat hari AIDS! Hehehe.. Selamat ulang tahun ya, yang. 

Terimakasih Tuhan Yesusku untuk Ruben. Teman hidupku di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Terimakasih sudah memilihkan dia yang tidak sempurna itu untuk jadi teman hidupku. Ketidaksempurnaan kami membuat kami cuma bisa berserah sama Tuhan untuk melangkah di dunia pernikahan yang mirip arena sirkus ini.

Terimakasih karena saya bisa tertawa, menangis, diam, marah, histeris, berusaha, meraih mimpi, bermalas-malasan, melayani Tuhan, sakit, mengalah, berjuang, menggemuk,  dan menua bersama Ruben. Tanpa Ruben, saya tidak bisa menjadi dynamic duo. I love you, Ben!

Friday, October 21, 2016

Yups, Saya Kangen Beju

Beju. Itu nama motor kesayangan saya. Teman setia yang menemani sejak saya jadi kuli tinta di Bandung. Beju disusulkan mengikuti saya ke Jogja mengingat betapa tidak bersahabatnya kota ini terhadap pengguna angkutan umum seperti saya dan keluarga.

Jangan bayangkan Beju seperti motor cantik. Walau bukan motor antik, Beju hanyalah motor bebek manual. Beju secara otomatis bertambah berat sejak jatuh ketika dipakai Andi, adik saya, saat melawan arus. Permak sana permak sini, Beju berhasil "sembuh" tapi tidak seprima dulu. Tetap saja menurut Ruben dan saya itu sudah sangat membantu kami.

Di Jogja ini, kami sekeluarga ada tiga orang. Ruben, Mama Rinta (mertua saya), dan saya. Kami tidak punya mobil. Jadi, kami sangat kerepotan ketika harus pergi bertiga. Terkadang harus merepotkan tetangga untuk menemani kami pergi jika ingin pergi bertiga.

Saya pun sebenarnya adalah perempuan dengan mobilitas yang tinggi. Ada kalanya melanglang buana ke berbagai  penjuru Jogja sebelum akhirnya pada malam hari pulang dan beristirahat di kediaman kami di kawasan timur Jogja.

Itu dulu. Sampai pada akhirnya saya sadar harus benar-benar membatasi diri berkendara. Awalnya sih sekadar mudah capek tapi lama-lama akhirnya jadi takut membawa motor. Saya ingat, perjalanan terakhir saya itu menemani Vina, kesayangan saya, yang ingin berkontemplasi ke Jogja. Selanjutnya kondisi kesehatan saya menukik turun. Amblas.

Agustus 2015 saya sadar ada yang tidak beres dengan rahim saya. Haid menggila dalam kurun waktu panjaaaaaang. Tiga bulan tanpa henti. Eh, sempat berhenti deh. Bentuknya flek saja. Tapi kata ginekolog RSIA Sadewa & RS Panti Rapih yang menangani saya, umur saya sudah mulai masuk usia rawan. Hati-hati untuk urusan rahim. Jangan ngoyo kalau aktivitas.

Oke saya nurut. Saya hampir tidak pernah lagi menyentuh Beju atau pun Kakak (motor kami yang satu lagi). Pilihan berkendara lebih sering saya jatuhkan ke sepeda merah. Hitung-hitung "bike to work". Mumpung kantor saya cederung dekat dengan rumah. Jaraknya mungkin sekitar 5 km saja.

Bersepeda ternyata strategi yang salah. Efek sampingnya buruk bagi organ reproduksi saya. Memang sih berat badan saya turun drastis hingga 8 kg. Khususnya di area bokong dan paha. Sayangnya justru membuat rusak bagian lain. Mondok lagi deh..

Selama masa hibernasi, Beju ketemu penunggang barunya. Saya agak-agak dilema sih sewaktu meminjamkan Beju. Penunggangnya masih di bawah umur yang mental dan emosinya masih jauuuh dari kata matang. Pikir saya, ah sementara saja lah!

Masa hibernasi saya selesai. Kini saya mencoba bangkit dari mati suri. Sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan dari orang lain. Salah satunya untuk urusan berangkat kerja.
Drama terbesar saya berjudul "Masuk Siang". Rasanya tuh seperti nonton film genre thriller. Deg deg ser! 

Saya sempat terbantu dengan aplikasi Go-jek. Memang sih agak berat juga membayar Rp15.000 untuk tarif dari rumah saya di kawasan Kebonan, Berbah ke kantor di Jl. Raya Jogja Solo KM 10.5. Tapi sekali lagi, saya belajar mandiri. Masa bergantung terus sama Mas Joko, rekan kerja yang juga sahabat saya itu.

Saya rasa bagian klimaks terjadi saat ini deh. Go-jek berkali-kali menolak order dari saya. Entah karena posisi saya di ujung timur Jogja yang agak jauh dari peradaban, atau karena sekarang (Oktober 2016) tarif Go-jek turun drastis hingga 50%, atau karena keduanya.

Pilihan beralih ke Call Jack. Aplikasi ojek taksi Online yang ternyata  dibuat oleh perusahaan Mas Aan, teman di gereja. Tapi lagi-lagi nihil! Dalam durasi kurang dari 1 detik saya langsung mendapat notifikasi : "tidak ada driver ditemukan". Hebat!

Saya sempat melirik juga ke aplikasi taksi online saking nekadnya. Demi bisa berangkat kerja tanpa merepotkan orang lain. Gagal juga! Pilihan terakhir : jalan kaki. 

Buat saya, jalan kaki adalah ujian yang sesungguhnya. Kok bisa jadi ujian? Pertama, saya ga kuat berdiri lama, apalagi jalan kaki. Kedua, saya masih suka tidak konsen ketika aktivitas sendirian. Bisalah tiba-tiba terjatuh tanpa sebab atau histeris sendiri denger atau merasakan ada kendaraan yang mengeluarkan getaran maupun suara yang kuat. Ketiga, jarak rumah ke kantor saya tergolong jauh sekali untuk dibawa berjalan kaki.

Kondisi pertama dapat saya akali dengan berjalan pelan-pelan sambil menenteng minuman. Rasa perih di perut dan kaki sedikit teralihkan dengan segarnya air minuman. Saya langsung beristirahat sesampainya di kantor. Tiduran di kursi gereja yang tak terpantau CCTV. Malu atuh ah tiduran disorot kamera. Memangnya kalau lambai-lambai tangan ke kamera tiba-tiba bantuan datang?  Terlalu berharap kamu, Epoy!

Kondisi kedua saya mengikuti saran Ruben. Selalu nyalakan radio ketika merasa takut sendirian. Bukan Music Player, tapi radio yang ada interaksi penyiarnya. Psikis saya bisa terkelabui.

Kondisi ketiga sementara dapat disiasati dengan meminta bantuan kepada alan semesta. Hahaha. Maksud saya, berharap pada tumpangan dari malaikat berwujud manusia. Mereka yang menolong saya layak disebut malaikat karena mau berbaik hati memberikan tumpangan kepada orang asing seperti saya. Sejauh ini ada saja sih malaikat yang dikirim Tuhan. Untuk itu, sembah sujud pujiku untukMu Yesusku.

Oke tapi itu semua bukan solusi. Ruben dan saya sepakat Beju adalah solusinya. Saya harus belajar bawa motor lagi. Belajar lagi atau jalan kaki. Cuma itu pilihannya. Ruben kan tidak setiap saat bisa menyempatkan diri kabur dari kantornya di Godean, ujung barat Jogja sana,  untuk menemani saya bekerja. Tidak baik juga untuk psikis saya.

Oke, oke, oke, sepakat! Naik motor (lagi). PR selanjutnya meminta kembali si Beju. Semoga minggu depan kami berhasil membawa pulang Beju. Oh, Beju.. Aku kangen kamu, nak!  Pulanglah ke mama dan papamu :)

Ini ceritanya foto ilustrasi. Sama sekali tidak berhubungan dengan Beju ataupun motor lainnya. Hehehe.. Foto ini diambil sewaktu saya dan Reni, salah satu sahabat baik sesama wartawan di Bandung dulu, nekat ikutan Lomba Balapan Gokart yang diadakan Telkomsel untuk komunitas wartawan Bandung. Lihatlah helm dan jaket kami lebih besar dari orangnya. Hahaha.. Tapi keduanya perlengkapan standard yang wajib dimiliki ketika berkendara gokart maupun motor.

Sunday, May 12, 2013

What I learned in life is…



That no matter how good a person is,
sometimes they can hurt you; 
because of this we must forgive.
It takes years to build trust and only seconds to destroy it ..
We don’t have to change friends if we understand that friends change..
The circumstances and the environment influence on our lives,
but we are the one who responsible for ourselves..
That you have to control your acts or they will control you..
That patience requires much practice.. 
that there are people who love us,
but simply don’t know how to show it..
That sometimes the person you think will hurt you and make you fall..
Is instead one of the few who will help you to get up..
You should never tell a child that dreams are fake, 
it would be a tragedy if they knew..
It’s not always enough to be forgiven by someone,
in most cases you have to forgive yourself first..
That no matter in how many pieces your heart is broken, 
the world doesn't stop to fix it ..
May be God wants us to meet all the wrong people first 
before meeting the right one..
So when we finally meet the right one we are grateful for that gift ..
When the door of happiness closes, another door opens..
but often we look so long at the closed one.. we don’t see what was open for us ..
The best kind of a friend is the kind in which you can sit on a porch and walk…
Without saying a word & when you leave it feels it was the best conversation you ever had.
It’s true we don’t know what we have until we find it, but its also true,
we don’t know what we’ve been missing until it arrives..
It only takes a minute to offend someone, an hour to like someone,
a day to love someone, but it takes a life time to forget someone.
Don’t look for appearances, they can be deceiving, don’t go for wealth even that can fade,
Find someone who makes you smile, because it only takes a smile to make a day better,
find what makes your heart smile..
There are moments in life when you miss someone so much..
that you wish you can take them out of your dream and hug them for real..
Dream what you want, go wherever you want to go.. because you have only one life..
and one change to do the things you want to do ..
The happiest people don’t necessarily have the best of everything,
they just make the best of everything that comes their way.
The best future is based on the forgotten past..
You can’t go on well in life until you let go of your past failures and heartaches.